RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengamat Ekonomi Pertanian dari Universitas Lampung (Unila), Prof. Bustanul Arifin mengapresiasi kebijakan Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mengendalikan laju produksi ayam ras.

Dia menilai, Kementan telah melakukan langkah terbaik dengan mengeluarkan Surat Edaran Dirjen PKH Kementan untuk mengelola jumlah atau suplai Great-Grand Parent Stock (GGPS) atau bibit-biangnya ayam dan Grand-Parent Stock (GPS) yang menghasilkan parent stock dan day-old chicken (DOC).

Bustanul menuturkan, beberapa bidang lain seperti peternakan dalam dua triwulan berturut-turut masih mengalami pertumbuhan negatif. Hal tersebut, disebabkan oleh rendahnya harga daging dan telur ayam, akibat melemahnya permintaan. Kondisi ini pun segera direspon Kementan dengan mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang pengurangan produksi DOC FS ayam ras pedaging. "Apabila upaya tersebut terus dijalankan, maka sektor peternakan akan tumbuh maksimal," nilai Bustanul dalam keterangannya, Senin (30/11).

Berita Terkait : Kurangi Impor, Kementan Kembangkan Budidaya Bawang Putih di Probolinggo

Bustanul juga menuturkan, pertumbuhan positif sektor pertanian pada triwulan III - 2020 yang mencapai angka 2,15 persen (YonY), jauh diatas dari pertumbuhan ekonomi nasional yang minus 3,45 persen. "Pandemi Corona, juga berdampak pada tingkat pengangguran terbuka menjadi 9,77 Juta orang atau 7,07 persen. Pada sisi ini, sektor pertanian menyerap lapangan kerja 29,76 persen atau peningkatannya mencapai satu persen," ungkap Bustanul.

Selain itu, bila dilihat dari sisi pangsa pasar, pertanian juga terlihat bangkit yang semula di tahun 2010 sebesar 15,3 persen sempat turun di tahun 2019 menjadi 13 persen. Namun, tepat di Triwulan ke III - 2020 naik menjadi 14,68 persen. Sehingga disimpulkannya, dalam kondisi sulit di masa Pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi bantalan dan andalan menghadapi resesi perekonomian. "Di sinilah peran Kementerian Pertanian yang tidak pernah kendor," tegasnya.

Sebelumnya, Kementan melalui Ditjen PKH Kementan mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang pengurangan produksi DOC FS ayam ras pedaging Nomor 18029/PK.230/F/09/2020 tanggal 18 September 2020 dan Nomor 19037/PK.230/F/10/2020 tanggal 19 Oktober 2020. Pengurangan produksi Final Stock (FS) ini dilakukan lantaran seusai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) selama pandemi covid-19 sejak Maret 2020 berdampak pada penurunan konsumsi sebesar 43,2 persen.

Berita Terkait : Gandeng Pupuk Kaltim, Kemenperin Gelar Pendidikan Vokasi Setara D1

Dirjen PKH Kementan Nasrullah menjelaskan, pengendalian produksi DOC FS ini melalui pengurangan jumlah setting dan cutting telur HE fertil umur 19 hari. Pengurangan jumlah setting HE dalam bentuk pembagian bantuan telur HE sebagai CSR kepada masyarakat terdampak bencana dan rawan gizi. Bahkan ada perusahaan yang sampai mengalokasikan 371 persen dari target yang diberikan Kementan untuk CSR mereka. "Kementan sangat mengapresiasi para pengusaha yang telah mendukung pemerintah untuk bersama sama menjaga keseimbangan supply dan demand ayam ras," kata Nasrullah.

Menurut catatan Ditjen PKH, realisasi CSR sampai 23 November 2020 telah mencapai 8.989.931 butir atau sebesar 119,9 persen dari target. Seperti yang tertulis pada SE Dirjen PKH Nomor 18029/PK.230/F/09/2020 tanggal 18 September 2020, disebutkan bahwa target pengurangan HE untuk CSR adalah sebanyak 7.500.000 butir, artinya realisasi yang tercapai melampaui target.

Kegiatan CSR ini dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu khususnya yang terdampak pandemi covid-19 dan tidak boleh diperjualbelikan sebagai telur konsumsi. Hal ini sesuai dengan Permentan Nomor 32/Permentan/PK.230/09/2017 Bab III pasal 13 (4) tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Baca Juga : Demokrat Tolak Wacana Pilkada Dan Pemilu Serentak

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono juga mengakui pelaksanaan tunda setting yang dimanfaatkan sebagai CSR ini cukup positif. Karena, perusahaan pembibit dapat mendistribusikan ke sekolah, pesantren, dan masyarakat yang terdampak pandemi covid-19. "Dengan kebijakan ini diharapkan banyak pihak yang akan terbantu meskipun kami paham ada juga pihak yang harus berkorban. Tetapi selama kita berniat baik maka diharapkan hasilnya juga akan baik," kata Sugiono. [KAL]