RMco.id  Rakyat Merdeka - Banyak yang membandingkan tingginya kasus Covid-19 dan tingkat kematiannya di Tanah Air dengan negara-negara lain di ASEAN. Kebijakan pemerintah dituding sebagai biang keroknya. Padahal, banyak faktor lain. Di antaranya, abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Deni Kurniadi Sunjaya menyatakan, kasus Covid-19 di Indonesia tidak bisa dibandingkan secara apple to apple dengan negara tetangga, seperti Thailand atau Vietnam.

“Kita banyak berasumsi, berspekulasi, tetapi jarang evidence based (berdasarkan bukti ilmiah),” ungkapnya, kemarin.

Berita Terkait : Saat Masyarakat Bosan Dan Abaikan Protokol Kesehatan

Secara teori, derajat kesehatan memang diukur berdasarkan faktor struktural, kohesi dan kapital sosial, perilaku masyarakat, hingga sistem kesehatan. Namun, dari banyak faktor itu, tidak adil membandingkan kasus kematian Covid-19 di Indonesia dengan negara lain di ASEAN, hanya berdasarkan faktor struktural saja, yakni kebijakan pemerintah.

Faktor lain juga turut mempengaruhi peningkatan kasus Corona. Salah satunya, masih banyak masyarakat yang abai akan protokol kesehatan. Ini menyumbang 20-30 persen.

Jika dihitung dari jumlah penduduk Jawa Barat yang sebesar hampir 50 juta, ini berarti ada 10 juta penduduk yang tidak menerapkan protokol kesehatan. “Artinya, kita menghadapi permasalahan yang tidak hanya berkaitan kebijakan pemerintah atau pelayanan kesehatan,” tutur Deni.

Berita Terkait : Darurat Covid-19

Hingga Selasa (12/1), kasus positif Virus Corona harian Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara dengan 10.047 kasus baru. Malaysia berada di peringkat kedua dengan 3.309 kasus baru. Sementara peringkat ketiga ditempati Filipina dengan 1.524 kasus baru.

Selain kasus harian, Indonesia menjadi negara dengan total kematian akibat Covid-19 tertinggi dibanding sembilan negara ASEAN lainnya.

Indonesia mencatat 24.645 kematian akibat virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China itu. Di urutan kedua, Filipina dengan 9.554 kematian. Sementara urutan ketiga, Myanmar dengan 2.858 kematian.

Berita Terkait : Tegakkan Prokes Seperti Pergantian Tahun Baru

Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Letjen Doni Monardo mengakui, upaya pemerintah menangani Covid-19, di antaranya menambah kapasitas ruang ICU dan isolasi, tidak cukup. Menurutnya, protokol kesehatan tetap yang paling utama dalam memutus rantai penularan Corona. Bahkan, sekalipun sudah ada vaksin, protokol kesehatan tak boleh kendor. [JAR]