Gunakan Skema B To B

Luhut Jamin Tak Ada Jebakan Utang China

Klik untuk perbesar
Menko Luhut Binsar Pandjaitan dan Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan yakin, Indonesia akan terhindar dari apa yang disebut sebagai jebakan utang China dalam Program Belt and Road atau Jalur Sutera modern.

Sebabnya, kata Luhut, Indonesia tidak menyertakan dananya pada proyek-proyek yang masuk dalam program Jalur Sutra Modern. Sehingga, tidak ada uang pemerintah yang disertakan dalam proyek-proyek tersebut.

“Ada yang memperingati debt trap untuk skemanya. Kita tidak melakukan perjanjian G to G (antar pemerintah) skema B to B (antar badan usaha), itu sangat baik untuk mengurangi risiko jebakan ini,” katanya.

Berita Terkait : Soal Dalang Perusuh 22 Mei, Luhut Bilang Tunggu Tanggal Mainnya


Luhut menjelaskan, prinsipnya harus sama-sama untung. Pemerintah, kata dia, hanya terlibat dalam studi kelayakannya, menyangkut lingkungan hidup, nilai tambah, transfer teknologi, B to B dan pemanfaatan tenaga kerja lokal. Apalagi, di Indonesia bagian Timur Indonesia masih kekurangan tenaga kerja handal dalam bidang teknologi.

“Seperti yang dilakukan di Morowali, sekarang kami sudah punya politeknik yang mendidik calon-calon tenaga kerja dalam bidang teknik. Setelah 3-4 tahun nanti mereka akan menggantikan tenaga-tenaga kerja asing yang ada di sana. Sehingga anak- anak Indonesia, pekerja-pekerja Indonesia, akan ikut menikmati juga. Inilah yang disebut sama- sama untung,” jelasnya.

Kerja sama yang ada saat ini tidak ada yang berbentuk kerja sama antar pemerintah, melainkan kerja sama antar badan usaha, langsung pada proyek. Jadi peran pemerintah disini hanya memfasilitasi. Menurutnya, proyek-proyek tersebut murni dilakukan secara Business-to-Business (B to B), pemerintah Indonesia dan China disebut hanya untuk memfasilitasi bertemunya masing-masing badan usaha dari kedua negara.

Berita Terkait : Luhut Yakin Indonesia Aman Dari Jebakan Utang Belt and Road

Sementara, terkait dengan pembangunan infrastruktur yang secara masif dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, Luhut meyakinkan dampaknya tidak bisa langsung dirasakan.


“Infrastruktur itu sebenarnya memperkaya, karena akan menurunkan cost tetapi tidak bisa terlihat hasilnya dalam 1-2 tahun, mungkin baru terasa hasilnya dalam 4-5 tahun. Sekarang China telah menikmati pembangunan Infrastuktur nya. Kita, Indonesia baru bisa menikmatinya dalam sekitar lima tahun ke depan,” jelasnya.

Selain itu, Luhut melihat Inisiatif Jalur Sutra bukanlah ancaman bagi perekonomian global tetapi malah meningkatkan daya saing di kawasan. “Kita melihat Uni Eropa memperluas rencana konektivitas blok Eropa-Asia, Rusia membangun Uni Ekonomi Eurasia, dan Amerika Serikat menciptakan kemitraan investasi infrastruktur Indo-Pasifik,” jelasnya.

Berita Terkait : Luhut Ajak Pemuda Melek Dunia Maritim

Sementara, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde meminta negara-negara berhati-hati menanggapi isu jebakan utang itu. Sebabnya, setiap negara memiliki kemampuan ekonomi berbeda-beda untuk membangun infrastruktur.

“Jika tidak dikelola dengan hati-hati, investasi infrastruktur memang dapat menyebabkan utang yang bermasalah. Sebaiknya utang ini harus digunakan untuk pemakaian yang tepat, dan berkelanjutan di semua aspek,” pintanya.[DIR]

RM Video