Pasca Pemilu, Kemenkes Fokus Tangani Caleg Stres

Klik untuk perbesar
Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes dr Fidiansyah.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi bukan hanya caleg yang berpotensi stres usai pemilu 2019 ini, tapi para tim sukses dan pendukung juga bisa mengalami gangguan jiwa.


Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes Fidiansyah meminta partai politik ikut berperan mengurangi jumlah caleg stres. Menurutnya, gejala stres itu sebenarya bisa diprediksi saat si caleg meminta surat keterangan sehat jasmani dan rohani. Dalam surat itu, ada lampiran tentang kejiwaannya dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Namun, pihak yang mengeluarkan surat keterangan sehat itu tak bisa berbuat banyak. Sebab, mereka hanya ditugaskan memeriksa dan membuat rekomendasi.

Berita Terkait : Jelang Uji Coba, Pemain Timnas Jalani Pemeriksaan Kesehatan

“Mestinya partai politik yang berwewenang. Bila ada indikasi si caleg akan stres, mestinya diberikan konseling atau ditunda pencalegannya sampai benar-benar bagus kondisi psikologisnya,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Namun begitu, Fidi mengakui, sampai saat ini Kemenkes belum memiliki data caleg yang stres dan masuk dalam pelayanan rumah sakit. Namun, berdasarkan informasi yang berkembang sudah banyak caleg yang terindikasi stres.

Berita Terkait : Selama Pemilu, Pasokan dan Harga Pangan Tetap Aman

“Misalnya, ada caleg yang meminta kembali pemberiannya karena kalah. Ini juga indikasi bahwa si caleg itu stres atau kejiwaannya bermasalah,” katanya.


Untuk mengatasi maraknya caleg atau timses yang stres, Kemenkes sudah menyiapkan sistem penanganan pasien yang mengalami stres pascatrauma. Antisipasi seperti ini bukan hal yang baru bagi Kementerian Kesehatan untuk suatu pesta demokrasi. Kemenkes siapkan layanan caleg pasca pemilu. Penanganan pasien dengan gangguan kejiwaan mempunyai beberapa level dan tingkatan sehingga pelayanan bisa disesuaikan dengan kondisi pasien.[QAR]

RM Video