Di Konferensi Global Landscape Jerman

Nurbaya Ungkap Keseriusan Pemerintah Kelola Lahan Gambut

Klik untuk perbesar
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya saat menjadi pembicara dalam Konferensi Global Landscape di Jerman, kemarin. (Foto: IG @siti.nurbayabakar)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Langkah koreksi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam tata kelola gambut, kini menjadi rujukan pengetahuan bagi dunia internasional. Hal itu terungkap dalam pertemuan Konferensi Global Landscape, di Bonn, Jerman, kemarin. Turut hadir perwakilan PBB, UN Environment, Menteri LH sedunia, World Bank, NGO, peneliti, akademisi, dan para mitra global lainnya.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia mendapat apresiasi setelah memiliki Pusat Penelitian Lahan Gambut Internasional atau International Tropical Peatlands Centre (ITPC). “Ini adalah rumah untuk konsultasi dan advokasi bagi kepentingan masyarakat dan lingkungan lokal, serta untuk kepentingan global,” kata Menteri Siti Nurbaya saat menjadi pembicara dalam Konferensi Global Landscape, kemarin

Dikatakan, basis ITPC saat ini berada di dua kampus penelitian hutan di Bogor, yaitu Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK, serta di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Di hadapan para pemimpin dan ahli kehutanan internasional, Mantan Sekjen DPD ini menegaskan, Indonesia menjadi salah satu taman bermain penelitian bagi pengetahuan kehutanan dunia.

Berita Terkait : Masyarakat Diberi Izin Pengelolaan

“Saya harap ulang tahun CIFOR ke-25 ini menjadi langkah monumental untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia, CIFORdan semua mitra negara, untuk berkontribusi secara signifikan terhadap kehutanan internasional,’’ kata Siti.


Menteri dari Nasdem ini kembali mengingatkan, pasca peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun 2015, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, telah memberi perhatian lebih pada pengelolaan lahan gambut berkelanjutan.

“Langkah ini untuk mencegah kebakaran gambut seperti yang terjadi pada 2015 ketika sekitar 800.000 ha dari 2,6 juta hektare area yang terba¬kar adalah lahan gambut,” ungkapnya. Siti mengatakan, telah terjadi pergeseran besar tata kelola kehutanan Indonesia menuju perspektif baru keberlanjutan.

Baca Juga : Palestina Berharap Indonesia Bisa Rayu AS

“Kami telah pindah dari manajemen berorientasi kayu ke pengelolaan lanskap hutan serta mengambil langkah-langkah korektif untuk mencapai pengelolaan hutan lestari,” tegasnya.

Belajar Dari Karhutla

Dikatakan Siti, Indonesia telah belajar banyak dari penanganan karhutla yang rutin terjadi hampir selama dua dekade. Presiden Jokowi tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, karena sangat merugikan lingkungan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat. “Kami telah mengembangkan banyak instrumen pengelolaan lahan gambut,” katanya.
 Selanjutnya 

RM Video