Menjajal Tol Trans Sumatera Lampung-Palembang Untuk Mudik

Rini Kaget, Dari Rawa Disulap Jadi Jalan Tol

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno saat meninjau kesiapan ruas Tol Trans Sumatera untuk melayani pemudik, akhir pekan lalu. (Foto: Kementerian BUMN).
Klik untuk perbesar
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno saat meninjau kesiapan ruas Tol Trans Sumatera untuk melayani pemudik, akhir pekan lalu. (Foto: Kementerian BUMN).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemudik ke Sumatera kini semakin dimudahkan dan cepat sampai ke tujuan. Ruas Lampung menuju Palembang sejauh 330 kilo meter (km) bisa ditempuh 4,5-5 jam perjalanan.

Ini baru sebagian kecil saja dari ruas Tol Trans-Sumatera yang sudah diselesaikan. Tahun 2021, saat seluruh jalur Lampung hingga Aceh tersambung, Tol Trans-Sumatera sepanjang 1.900-an km, akan mengalahkan panjangnya Tol Trans-Jawa, sepanjang sekitar 1.000 km itu.

Jalur Trans-Sumatera yang dibangun PT Hutama Karya dan PT Waskita Karya termasuk cukup sulit dikerjakan. Lahannya sebagian berupa rawa-rawa dan gambut.

Saat dibangun, belum ada lajur penghubung yang memadai, sehingga pekerja menjangkau area menggunakan getek atau perahu kecil dan berhari-hari tinggal di tengah rawa, hanya ditemani mie instan.

Sungguh perjuangan yang luar biasa, demi membangun infrastruktur. Menteri BUMN Rini Soemarno terharu dan menyebut mereka sebagai “ahlinya pembangun jalan tol”. Sebutan yang pantas.

Akhir pekan lalu, Menteri Rini menjajal Tol Trans-Sumatera, Lampung-Palembang, untuk uji coba jalur mudik Lebaran. Start dari Jakarta selepas sahur dan shalat subuh, berkendara masuk tol hingga Merak. Lalu naik kapal feri Portlink milik ASDP, dan turun di Terminal Bakauheni. Lanjut jalur tol sampai Terbanggi Besar, dan meneruskan hingga Kota Mpek-mpek, Palembang.

Sampai di tujuan akhir, sekitar tiga jam menjelang buka puasa. Sepanjang perjalanan, Menteri Rini tetap menjalankan puasa. Rini ditemani sejumlah Dirut BUMN. Antara lain Dirut Pertamina Nicke Widyawati, Dirut BNI Achmad Baiquni, Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, Dirut ASDP Ira Puspadewi. Serta sejumlah Dirut BUMN Karya, yaitu Dirut Waskita Karya I Gede Ngurah Putra, Dirut Hutama Karya Bintang Perbowo dan Dirut PP Lukman Hidayat.

Menteri BUMN Rini Soemarno (ketiga dari kiri) ditemani sejumlah Dirut BUMN. Antara lain Dirut Pertamina Nicke Widyawati, Dirut BNI Achmad Baiquni, Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, Dirut ASDP Ira Puspadewi. Serta sejumlah Dirut BUMN Karya, yaitu Dirut Waskita Karya I Gede Ngurah Putra, Dirut Hutama Karya Bintang Perbowo dan Dirut PP Lukman Hidayat. (Foto : Kementerian BUMN)

Baca Juga : Sensasi Teknologi Perbankan Meriahkan BNI Java Jazz Festival 2020

Dari Kementerian BUMN, hadir Sesmen Imam Apriyanto Putro dan para Deputi BUMN yaitu Gatot Trihargo, Fajar Harry Sampurno, Hambra dan Aloysius Kiik, serta Staf Khusus III Wianda Pusponegoro.

Selain mencoba jalur tol, Rini juga sekaligus mengecek kesiapan Terminal Eksekutif di Merak dan Bakauheni. Rini senang sekali berada di sana. Kondisi terminalnya bagus, bersih dan terasa seperti di airport. Tenant pun mulai banyak. Kantor bank, restoran, kedai kopi hingga rumah kreatif BUMN yang menjual aneka batik dan produk UMKM.

“Ini pelabuhan rasa bandara,” begitu komentar banyak orang di rombongan Menteri. “Terima kasih ASDP dan PP sudah membangun terminal yang bagus. Tanpa sinergi BUMN, tak mungkin kita memiliki ini. Sekarang kita punya terminal eksekutif seperti pelabuhan di luar negeri,” kata Rini.

Menteri BUMN Rini Soemarno saat mengecek kesiapan Terminal Eksekutif di Merak dan Bakauheni. (Foto: Kementerian BUMN)

Cek Rest Area
Di atas kapal feri, Rini mendapat penjelasan tentang jalur tol yang akan dilalui. Yaitu, lajur Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 141 km sudah operasional dan berbayar. Selanjutnya, disambung Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang 189 km.

Di jalur ini, tol terbagi dua katagori, yaitu yang fungsional dua arah, sepanjang sekitar 118 km, dan sisanya lajur fungsional hanya bisa digunakan 1 arah.

Jalur fungsional kondisinya sudah mulus dan cukup nyaman dilalui. Di beberapa titik rest area sudah disiapkan fasilitas yang cukup memadai. Untuk istirahat, kebutuhan toilet hingga stasiun pengisian BBM berupa kios yang disebut Pertamina Shop.

Bahkan masjid juga sudah dibangun di rest area KM 215. Lajur fungsional ini diperkirakan akan selesai pada Agustus mendatang, dan direncanakan resmi operasional dua arah sekitar Oktober 2019.

Baca Juga : 3 Serikat Buruh Hidupkan MPBI

“Belum pernah dalam sejarah Indonesia, kita membangun 200-an kilometer jalan tol dalam dua tahun,” kata Dirut Waskita Karya, I Gede Ngurah Putra, saat ngobrol di atas kapal Portlink milik ASDP.

“Kita membangun tol rata-rata 300-an kilometer dalam 30 tahun. Sekarang, tiga tahun kita yakin bisa bangun 360-an kilometer,” tambahnya.

Biasanya pembangunan infrastruktur terkendala oleh pembebasan lahan, sehingga prosesnya lamban. Mengapa sekarang bisa cepat? Kata Putra, salah satunya melalui regulasi dan aturan pemerintah yang memberi kemudahan dan bisa mempercepat pembangunan proyek.

Selain itu, sinergi bukan hanya terjadi antar-BUMN, tetapi juga antar kementerian dan lembaga. Kerja sama dengan Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan dan Kehutanan, juga Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan seterusnya.

Di atas feri, Menteri Rini terlihat berdiskusi dengan sejumlah Dirut BUMN Karya tentang jalur tol Trans-Sumatera. Dia bertanya, bagian mana yang sudah dikerjakan, mana yang belum, mengapa belum selesai dan seterusnya.

Turun di Bakauheni, menjajal Tol Trans-Sumatera pun dimulai. Selain mengecek kondisi jalan tol, Rini juga meninjau sejumlah titik yang akan dijadikan rest area pemudik. Rini juga mengecek kesiapan Pertamina untuk penyediaan BBM.

Selain itu, ada area kuliner lokal. Pedagang kecil dari area setempat bisa berjualan di sini. Bahkan dilatih memanfaatkan fitur perbankan digital “LinkAja” yang terkoneksi sebagai alat pembayaran.

Baca Juga : Bertemu Presiden Jokowi, Tony Blair Happy Masuk Tim Pemindahan Ibu Kota

Pemadangan kanan kiri jalan tol bagus. Melalui perkebunan sawit, kebun nanas, kebun tebu dan kebun karet. Jelang wilayah Pematang Panggang, pemandangan kanan kiri jalanan berubah.

Sebagian besar berupa lautan rawa dan gambut. Di rest area KM 285, Rini mendengarkan kisah para pahlawan pembangun jalan tol ini.

“Setelah pembebasan lahan, kami survei dan ternyata sekitar 30 kilometer isinya rawa-rawa. Kami kerja pakai getek, dan menginap di rawa-rawa hanya berbekal mie instan. Selama 4-6 bulan, kami vacuum lahan untuk menguras airnya. Lalu pernah selama tiga bulan tidak bisa bekerja karena lahannya terkena banjir,” kisah salah satu project manager.

Menteri Rini mengatakan, Agustus tahun lalu dia datang mengecek pembangunan jalan tol dan kaget. “Saya pikir, bagaimana ya bisa selesaikan ini. Masih rawa-rawa. Saya lihat sendiri betapa sulitnya pekerjaan. Tapi Pak Putra (Dirut Waskita Karya) bilang, bisa. Karenanya, saya akui. Saya angkat topi, di daerah paling sulit, bisa membangun jalan tol. Saya bangga, dengan kawan-kawan BUMN Karya yang semangatnya tinggi,” katanya.

Rini berharap, jalan tol ruas hingga Palembang bisa diresmikan sebelum bulan Oktober tahun ini. Semoga. [Ratna Susilowati]