Dampak Perang Dagang

Sri Mulyani Mulai Khawatir Investasi Indonesia Jeblok

Klik untuk perbesar
Sri Mulyan.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mulai khawatir terhadap dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China akan mengganggu masuk nya investasi ke Indonesia. Pasalnya, perang dagang sampai detik ini membuat pelaku usaha berhati-hati menanam modalnya, termasuk di Indonesia. 

“Akibat perang dagang ini, global economic environment (kondisi ekonomi dunia) menjadi lemah. Ini akan mempengaruhi atau memperlemah minat investasi di mana-mana,” kata Sri Mulyani dalam seminar Indef bertajuk ‘Tantangan Investasi di Tengah Kecamuk Perang Dagang’ di Hotel Grand Sahid, Jakarta, kemarin. 

Tidak hanya itu, lanjutnya, imbas perang dagang tidak hanya membuat perekonomian dunia melemah, tapi ke mana-mana. Termasuk seluruh supply chain (rantai pasok) barang dan jasa yang didagangkan berbagai negara di dunia. 

Berita Terkait : Airlangga Genjot Investasi Korsel

“Global trade (perdagangan dunia) melemah, berarti seluruh yang tergantung pada ekspor juga melemah dan juga dalam hal ini muncul apa yang disebut less optimism terhadap capital flow (aliran modal),” jelasnya. 

Kondisi tersebut, membuat dunia usaha berhitung, karena permintaan global terhadap barang menjadi lebih rendah akibat pelemahan ekonomi yang menyeluruh. 


“Ini pasti akan mempenga ruhi apa yang disebut kepu tusan dari investment, pengusaha itu membuat keputusan base on kalkulasi mikro perusahaan, tapi juga base on environment yang dihadapi,” tambahnya. 

Berita Terkait : Lagi, Sri Mulyani Manjakan Pengusaha

Di tengah situasi perekonomian dunia yang belum menentu, Sri Mulyani juga menyentil cara kerja birokrat di Indonesia dalam menjaring investasi. Pasalnya, upaya-upaya pemerintah yang dilakukan dalam memperbaiki cara kerja birokrasi belum membuahkan hasil yang diinginkan. 

“Itu kenapa presiden kemarin dalam pidato visi menyampaikan birokrasi kita tidak boleh business as usual, mereka harus bekerja untuk melayani. Instruksi presiden ini harus di-translate di semua kementerian/lembaga dan daerah,” tegasnya. 

Meksi begitu, dia mengatakan, Indonesia tidak terlalu masuk atau dekat dengan arus supply-chain perdagangan dunia. Akibatnya, Indonesia tidak terlalu terkena dampak perang dagang antara China dan Amerika Serikat. 

Berita Terkait : Ada Perang Dagang, Jokowi Minta Ekspor Mebel Dan Produk Kayu Digenjot

Direktur Eksekutif Indef Taufik Ahmad mengamini pernyataan Sri Mulyani. Menurutnya, Indonesia tidak terlalu terkena dampak negatif perang dagang, tapi juga paling sulit meraup peluang positif. 

“Kalau dampak pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hanya sebesar 0,01 persen. Sementara dampak terhadap ekspor, Indonesia justru tercatat mengalami penurunan ekspor 0,24 persen. Sedangkan dampak ke investasi, Indonesia hanya mendulang output positif 1,02 persen, lebih rendah dibandingkan Thailand 2,73 persen dan Vietnam 8,05 persen,” tegasnya. [NOV]