APHI Dorong Ekspor Hasil Hutan Buat Tekan Defisit

Klik untuk perbesar
Ketua APHI Indroyono Soesilo (Foto:Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hasil ekspor hutan, kayu dan olahan kayu diyakini menjadi langkah efektif menekan defisit neraca perdagangan Indonesia yang di semester I-2019 sudah mencapai 1,93 miliar dolar AS. 

Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan, solusi ini sangat mungkin untuk diterapkan pemerintah. Khususnya, dari hasil hutan dan kayu karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri 100 persen. 

“Apalagi, pengusahaan sektor hulu semester I-2019 menunjukkan adanya kenaikan produksi kayu dari hutan alam sebesar 7,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini potensi yang besar untuk peningkatan ekspor demi memperkecil defisit neraca perdagangan,” kata Indroyono di acara Media Gathering APHI di Jakarta, kemarin. 

Berita Terkait : KLHK Tingkatkan Kesiapsiagaan Atasi Kebakaran Hutan di Bulan September

Direktur Eksekutif APHI Purwadi Soeprihanto menambahkan, proyeksi nilai ekspor industri kehutanan akan tumbuh sebesar 81,86 persen menjadi 22 miliar dolar AS pada 2025 seiring dengan positifnya pertumbuhan produksi kayu bulat sebagai bahan baku. Pertumbuhan tersebut, dihitung dari posisi nilai ekspor pada 2018 yang mencapai 12,1 miliar dolar AS. 


Kenaikan itu didukung oleh bertambahnya nilai devisa masing-masing produk unggulan industri primer kehutanan seperti pulp, kertas, kayu olahan dan plywood. 

“Kita proyeksi nilai devisa pro duk pulp akan naik sebesar 23,95 persen dari 2,63 miliar dolar AS pada 2018 menjadi 3,26 miliar dolar AS pada 2025. Produk kertas dari 3,96 miliar dolar AS pada 2018 menjadi 9,93 miliar dolar AS pada 2025, dan produk kayu olahan atau wood working dari 1,29 miliar dolar AS pada 2018 menjadi 3,09 miliar dolarAS pada 2025,” papar Purwadi. 

Berita Terkait : Program B30 Dapat Kurangi Impor BBM dan Tekan Defisit

Sementara, nilai produk plywood di proyeksi akan stabil di angka 2,5 miliar dolar AS ka rena adanya perubahan bahan baku dari kayu alam menjadi kayu tanaman. Purwadi menambahkan, tumbuhnya nilai ekspor tersebut juga akan didukung ketersediaan pasokan bahan baku berupa kayu bulat atau log sebanyak total 109,7 juta m3. 

Agar ekspor kayu dan hasil hutan lainnya bisa terus di genjot, pelaku usaha minta pemerintah memberikan paket kebijakan untuk memperbaiki perdagangan hasil hutan. 

“Kita butuh paket kebijakan untuk ekspor kayu, khususnya di Papua dan Papua Barat. Selain merbau, banyak jenis kayu lain yang potensial diekspor tapi se l ama ini belum dikenal pasar. Untuk mendorong industrialisasi dan penciptaan peluang kerja, bisa di implementasikan Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Selain itu, diperlukan per luasan ekspor kayu olahan atau moulding,” kata dia. [NOV]