Menkeu Masih Optimis Tekan Defisit Transaksi

Klik untuk perbesar
Menkeu Sri Mulyani Indrawati

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati optimis defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) sampai akhir tahun bisa di bawah 3 persen, tepatnya 2,4 persen

Pemerintah akan melakukan  berbagai upaya untuk menekan defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2019 mencapai 8,44 miliar dolar AS atau setara 3,04 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

Salah satunya, dengan menggenjot kinerja sektor perindustrian, perdagangan, dan investasi melalui kebijakan yang tepat. Dan dari sisi Kemenkeu, adalah pemberian instrumen fiskal seperti insentif bagi kementerian maupun Pemerintah Daerah (Pemda). 

“Kami siap menggunakan instrumen fiskal untuk membantu kementerian terkait dan juga inisiatif dari Pemda untuk bisa meningkatkan ekspor, perdagangan dan investasi,” ujar Ani di Gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin. 

Berita Terkait : Mendes Tertarik Bikin Rumah Knock Down Di Daerah Transmigrasi

Kemenkeu, lanjut Ani, juga akan memberikan dukungan untuk menekan CAD secara khusus kepada kementerian terkait. Misalnya, jika mengenai migas maka akan diberikan melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan lainnya. 


“Apakah itu, Menteri Energi karena ini berhubungan dengan migas, Kementerian Perdagangan, Kementerian Industri, Kementerian Pertanian. Semuanya yang memiliki portfolio di mana penyumbang dari trade maupun account deficit itu terjadi,” jelasnya. 

Ani menuturkan, pihaknya akan terus melakukan pembahasan dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan terkait tingginya impor minyak dan gas. Di mana CAD melebar karena hal tersebut. 

Selain menekan impor, insentif juga akan diberikan untuk menggenjot ekspor. Oleh karenanya, koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait akan terus dilakukan. Sehingga diketahui langkah dan kebijakan apa yang dibutuhkan dan bisa diberikan untuk mengurangi tekanan pada CAD. 

Berita Terkait : Mentan: Ekspor Perkuat Merah Putih, Impor Lemahkan Petani Kita

“Kita akan terus melihat formulasi kebijakan-kebijakan yang makro. Kalau ada tambahan akan jadi feedback hubungan kami dengan seluruh KL maupun Pemda dan para pengusaha. Kita harapkan supaya kita juga bisa terus mengadjust policy sesuai kebutuhan,” tegasnya. 

Seperti diketahui, derasnya arus impor ke Tanah Air membuat defisit transaksi berjalan membengkak. CAD pada kuartal II-2019 mencapai 8,44 miliar dolar AS. CAD tersebut menembus level 3,04 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

Jumlah tersebut, naik drastis dibanding kuartal I-2019 yang hanya di level 2,6 persen dari PDB (7 miliar dolar AS) atau CAD kuartal II-2018 yang sebesar 7,9 miliar dolar AS atau 3,01 persen dari PDB. 


Bila dirunut ke belakang, posisi CAD pada kuartal II-2019 merupakan yang terburuk dalam lima tahun atau sejak 2014. 

Berita Terkait : Menkeu Minta BPJS Kesehatan Tekan Defisit

Bengkaknya CAD di kuartal II2019 ini juga disindir Presiden Jokowi saat membuka ratas evaluasi pelaksanaan program mandatori biodiesel (B20) di kantor Presiden, Jakarta. 

Jokowi menyebutkan jika pemerintah bisa menghemat impor minyak sebesar 5,5 miliar dolar AS selama setahun jika menerapkan program mandatori B20 atau pencampuran ekstrak minyak kelapa sawit (fame) dengan solar. 

“Sehingga defisit neraca perdagangan dan defisit neraca transaksi berjalan kita akan semakin baik,” kata Jokowi

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menyebutkan jika Indonesia mampu memproduksi avtur dari bahan baku minyak kelapa sawit (CPO) maka impor avtur yang selama ini dilakukan dapat ditekan dan mampu untuk menekan defisit neraca perdagangan. Ia juga menekankan untuk melakukan inovasi-inovasi pemanfaatan minyak kelapa sawit di Tanah Air. [NOV]
 

RM Video