Pertemuan Tahunan WEF

Jokowi Minta SDM Jadi Topik Utama

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, delegasi Delegasi World Economic Forum (WEF) meminta dukungan dari Presiden Jokowi mengenai rencana pertemuan tahunan (annual meeting) WEF di Indonesia pada 2020. 

“Pokoknya tahun depan targetnya di Jakarta. Nah itu ya intinya WEF meminta dukungan Presiden dan menanyakan mengenai apa topik utamanya,” katanya usai mendampingi Presiden menemui delegasi WEF. 

Bambang mengungkapkan, Presiden menyampaikan bahwa fokus Indonesia dalam 5 tahun mendatang adalah sumber daya manusia (SDM) atau human capital. Inilah yang akan jadi nuansa annual meeting WEF 2020. 

Dikatakan Bambang, Presiden meminta supaya pihak yang diundang dalam WEF yang akan diselenggarakan di Indonesia itu bukan hanya kepala negara dari Asia Tenggara, tapi juga Chief Executive Officer (CEO) dari perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan SDM. 

Berita Terkait : Jokowi Bagikan 345 Sertipikat Di Kalbar

“Termasuk perusahaan teknologi, unicorn, termasuk perusahaan penyedia jasa tenaga kerja, misalnya, yang sekarang internasional. Ingin agar pertemuan itu benar-benar bicara mengenai bagaimana mengembangkan human capital di Indonesia,” jelasnya. 

Apalagi, kata Bambang, Indeks Modal Manusia atau Human Capital Index (HCI) Indonesia sejauh ini masih tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura dan Vietnam. 

Berdasarkan data dari Bank Dunia, Indonesia menduduki posisi ke 87 dari total 157 negara yang mendapat peringkat.“Data World Bank, Human Capital Index-nya Indonesia hanya 0,53,” ungkapnya. 


Bambang menjelaskan, dengan perolehan tersebut, anak-anak Indonesia yang lahir saat ini pada saat 18 tahun kemudian hanya bisa meraih 53 persen dari total potensi produktivitas maksimalnya. Angka ini jauh lebih rendah dari Singapura dan Vietnam. 

Berita Terkait : Soal RUU Pertanahan, Jokowi Diminta Terbitkan Surpres Baru

“Jauh di bawah negara seperti Singapura yang indeks human capital-nya 0,88 dan Vietnam 0,67,” ujarnya. 

Bambang menambahkan, jika hal tersebut tak diperbaiki, dikhawatirkan anakanak Indonesia kesulitan bersaing di tengah lajunya persaingan global. 

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan, di era industri 4.0 akan membuka peluang bagi diversifikasi pekerjaan. Setidaknya Moeldoko menyebut akan bermunculan sekitar 65 persen segmen pekerjaan baru yang belum populer sebelumnya. Untuk itu, Indonesia wajib menyiapkan pembangunan kapasitas manusia.

 “Indonesia maju yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelas dunia. Itu proyeksi pemikiran Pak Jokowi untuk Indonesia,” ujarnya. 

Berita Terkait : Pemuda Tani HKTI Siapkan SDM Unggul Untuk Kemandirian Pertanian

Menurut Moeldoko, indeks inovasi global AS saat ini berada di urutan 6 sedang Indonesia menempati posisi ke-85. Sementara untuk indeks daya saing global, Jerman di urutan 5, sementara Indonesia menempati posisi ke-36. 

“Ini perlu saya sampaikan karena kalau mau menuju Indonesia unggul, indeks ini harus kita persempit. Selama ini masih jauh dibanding 5 negara maju lainnya,” katanya. 

Pemerintah menurutnya, sejauh ini sudah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak indeks daya saing di tingkat global termasuk perbaikan kualitas kesehatan. “Program Keluarga Harapan pada 2019 juga sudah telah mencapai 10 juta penerima,” ucapnya. [KPJ]