Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Gatot M Manan

Mencari Resep Manjur Di Era Ekonomi Digital

Klik untuk perbesar
Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Gatot M Manan (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketidakpastian kini bersumber dari perang dagang. Perseteruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump Versus Presiden China Xi Jin Ping. Dampak perang selalu sama. Hanya ada kekalahan dan nestapa. Berdampak pada keduanya, berimbas pada semua. Tanpa terkecuali. 

Mesin ekonomi tersendat. Semua negara tumbuh lamban. Indonesia juga tak dapat menghindari perlambatan. Dibutuhkan sumber-sumber pertumbuhan baru. Kondisi apa pun tetap menciptakan peluang.

Para ekonom berbagi gagasan di Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 2019. Tujuannya: merumuskan resep manjur. Bagaimana navigasi ekonomi diarahkan di era serba digital ini. 

Teknologi informasi membuat semuanya serba mudah. Berbagai disrupsi dipangkas algoritma. Tata niaga rente terhapus teknologi. Digitalisasi memaksa semua bekerja efisien.

Pemenuhan kebutuhan segampang menjentikkan jari. Komparasi harga tak tehambat tempat, tak terkendala waktu. Semua dilakukan dengan mudah dan cepat. Penjual terhindar dari sewa gerai mahal. Modal utamanya adalah kepercayaan dan kualitas. Ekonomi digital membuka ruang tanpa batas. 

Baca Juga : Inggris Vs Bulgaria, Three Lions Harus Lebih Buas


Berkah dan Musibah

Indonesia didukung mega populasi sebanyak 268 juta. Ini jelas menjadi pasar yang gurih. Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah menjadi berkah kalau ditopang kapabilitas. Upaya elevasi produktivitas SDM menjadi kunci. 

Inovasi perlu menjadi budaya. Setiap inventor dianggap pahlawan bangsa. Sekecil apa pun temuan adalah prestasi membanggakan. Inovasi bergulir  mengiringi nafas ekonomi. 
Pemerintah perlu menciptakan iklim tersebut. Paten intelektual dimudahkan. 

Untuk menjadi kunci insentif berikutnya, inovasi perlu terhubung secara komersial. Namun, SDM yang melimpah pun bisa menjadi musibah. Populasi besar menjadi pasar bagi produk asing. Ini dikarenakan skala produksi domestik rendah dengan modal terbatas. 

Efisiensi ekonomi ditengarai memburuk. Sementara rasio capital output meningkat. Perlu modal semakin besar untuk menghasilkan output sama.   
Sedangkan pendanaan bank untuk ekonomi jauh di bawah negara peer. Perbankan terkendala dana pihak ketiga yang terbatas. Sedangkan dana domestik parkir di luar. Padahal, repatriasi dana dibutuhkan agar bank berperan optimal. 

Baca Juga : Imbas Penutupan Jalan Antisipasi Demo, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan


Infrastruktur Jaringan

Ekonomi digital perlu dukungan infrastruktur memadai. Palapa Ring menjadi solusi. Seantero Nusantara terhubung secara digital. Perbaikan perlu dilakukan agar kualitas jaringan merata secara spasial. 

Selain itu, tidak hanya tol laut yang dibutuhkan kawasan timur. Tol jaringan tak kalah penting untuk nadi konektivitas.  Penggunaan serat optik terkendala area ring of fire yang rentan bencana. Teknologi VSAT menjadi pilihan yang stabil.  

Faktor krusial lain adalah terkait data. Digitalisasi memungkinkan data dikelola sistem. Untuk itu, pengelolaan terintegrasi sangat dibutuhkan. Otoritas data berperan sebagai aggregator dari berbagai sumber. 

Bisnis digital mendorong ekonomi inklusif. Usaha kecil terhubung ke pasar. Tanpa terkendala tempat dan waktu. Kebijakan berorientasi menyuburkan usaha kecil ini. 
Kegiatan ekonomi tidak untuk dikuasai korporasi besar. Korporasi menjadi induk satelit plasma Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Peran UMKM mengisi value chain berdasar tahap produksi. 
Digitalisasi mengakomodasi kolaborasi usaha besar dan kecil secara mutualistik. Kerja sama pun saling menguntungkan. 

Baca Juga : Antisipasi Demo di Sekitar Gedung DPR, Arus Lalu Lintas Dialihkan

Seperti pesan Presiden Jokowi di Annual Meeting IMF. Kini bukan era perang yang saling mengalahkan, melainkan kolaborasi sinergi yang saling melengkapi. Digitalisasi dan inklusi keuangan menjadi jawaban agar ekonomi tumbuh secara bottom-up dan berkualitas. Salam Digital. ***

 

 

RM Video