Gandeng Jerman, Bappenas Tingkatkan Kompetensi SDM Lewat Program ISED

Klik untuk perbesar
Ilustrasi pekerja kantoran. (Foto: Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di era industri 4.0, keterampilan pekerja Sumber Daya Manusia (SDM) dituntut untuk selalu mengikuti zaman. Tak heran, permintaan terhadap tenaga kerja kompeten pun makin tinggi.

Untuk itu Kementerian Perencanaan Pembangunan Nnasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama pemerintah Jerman, menginisiasi program Inclusive Sustainable Economic Development (ISED) Dialogue, sebagai pusat pelatihan bagi trainer (training for trainer).

Perlu disadari, tantangan yang dihadapi adalah suplay dan demand tenaga kerja yang kompeten dalam menghadapi revoluasi digital dan industri 4.0 tersebut.

Deputi Direktur Pariwisata Kementrian PPN/Bappenas Istasius Angger Anindito (Angger) menyoroti, kebutuhan akan tenaga kerja dan sistem pendidikan pelatihan teknis dan kejuruan atau yang lebih dikenal dengan TVET (Technical and Vocational Education and Training), penting dilakukan, agar tenaga kerja Indonesia lebih siap dan dipersenjatai dengan baik guna melahirkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan agar dapat bertahan di era digitalisasi dan Industri 4.0.

Menurutnya, training for trainers saat ini sangat penting tetapi training harus sesuai dengan demand industri, traning yang aplikatif.

Maka lembaga pendidikan (sekolah kejuruan) atau swasta penyelanggara pelatihan, harus menyiapkan materi yang sesuai kebutuhan industri supaya suplay dan demand yang sesuai.

Berita Terkait : Tren Ekspor Meningkat, Kementan Apresiasi Batam

Selain itu, strategi pelatihan yang tepat sasaran akan membuka peluang bagi tenaga kerja, erutama di industri manufaktur untuk mendapatkan keterampilan-keterampilan masa kini atau up to-date yang akan diaplikasikan dengan teknologi terkini.

"Karena transformasi struktural Indonesia menjadi negara industri yang berdaya saing tinggi, memerlukan program peningkatan keterampilan untuk dapat memenuhi tuntutan di industri, baik up skilling maupun melalui reformasi keterampilan," katanya di Jakarta, Kamis (19/9).

Untuk itu, lanjut Angger, Bappenas bersama dengan proyek ISED berkomitmen untuk menjadi salah satu focal point dan berkontribusi terhadap implementasi era Industri 4.0.

Melalui proyek ini, pihaknya akan mengaplikasikan pendekatan terpadu dalam mempromosikan peluang kerja yang diterapkan melalui perluasan pasokan terhadap orientasi permintaan TVET.

"Hal ini kami lalui dengan bekerja sama dengan mitra di sektor swasta melalui promosi model bisnis berkelanjutan dan inklusif," tuturnya.

Dalam roadmap 'Making Indonesia 4.0' Presiden Jokowi menargetkan, pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun.

Baca Juga : Marquez Juara, Honda Kunci Gelar Konstruktor

Sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik menjadi 6-7 persen pada periode 2018-2030. Sementara Industri manufaktur diperkirakan akan berkontribusi sebesar 21-26 persen terhadap PDB pada 2030.

Adapun Proyek ISED yang bertujuan untuk mempromosikan peluang kerja, merupakan bagian dari kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Jerman, yang dimulai sejak 2017 hingga 2021.

Tujuan proyek adalah untuk memperkuat kapasitas sektor swasta dan publik guna mempromosikan peluang kerja inklusif dan berkelanjutan.

Pariwisata berkelanjutan menjadi sektor pertama proyek ISED dan berlokasi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sektor kedua yang dipilih adalah manufaktur dengan fokus pada industri makanan dan minuman.

Dari sudut pandang sektor swasta, Manager HR PT Nutrifood Indonesia, Veronica AD Shinta mengakui dampak positif dari kerjasama pelatihan dalam proyek ISED.

Namun dia mengingatkan tentang materi training yang aplikatif, sesuai kebutuhan industri. Menurutnya, hampir semua pelaku industri manufaktur telah mengadopsi teknologi dalam mendukung pertumbuhan produktivitas perusahaan.

Baca Juga : Jokowi Umumkan Susunan Kabinet Kerja II, Besok Pagi

Secara umum, pelaku industri manufaktur yang terlibat dalam program ISED menyambut baik kerjasama tersebut.

Training Development Supervisor PT Niramas Utama (Inaco), Fifi Novalita Sari misalnya mengatakan, seluruh program yang ditawarkan berjalan seiring dengan apa yang dibutuhkan oleh Inaco.

Kini, dengan menggunakan mesin otomatis, Inaco berhasil melakukan efisiensi dengan hanya mempekerjakan 200 tenaga kerja.

"Dampak ke kapasitas produkai di atas 50 persen pertumbuhannya. Tentu dengan mengikuti program pelatihan ketrampilan ISED, kami lebih produktif lagi," katanya. [DWI]