Impor Si Manis Tahun Ini 2,8 Juta Ton

Mendag: Dodol Garut Cepat Bulukan Pake Gula Lokal

Klik untuk perbesar
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita(Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Impor gula untuk industri berpotensi terus membengkak. Sebab kebutuhannya terus meningkat. Sementara produksi gula lokal belum bisa memenuhi kebutuhan, baik volume maupun kualitasnya.

Impor gula untuk industri belakangan ini kembali mendapat sorotan. Sebab volumenya mencapai 4,45 juta ton. Jumlah itu menempatkan Indonesia berada di urutan pertama sebagai negara paling besar pengimpor gula. 

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengakui, Indonesia melakukan impor gula cukup besar. Namun dia memastikan, impor dilakukan berdasarkan kebutuhan. 

Kata dia, keputusan penetapan kuota impor gula melalui rapat koordinasi terbatas (rakortas) lintas kementerian dan lembaga. Rakortas diikuti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian dan Perum Bulog. 

“Bukan Kemendag yang memutuskan. Dan, sudah diputuskan bahwa kebutuhan gula industri tahun ini sekitar 3,6-3,7 ton. Karena stok dari (impor) tahun lalu masih tersisa 0,8 juta ton. Dengan demikian impor tahun ini rencananya hanya 2,8 juta ton,” ungkap Oke kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Dia menuturkan, kebutuhan impor tidak bisa dibandingkan dengan negara lain, misalnya dengan China. Dia bilang, melihat data harus secara komperhensif.

China, kata dia, melakukan impor gula lebih kecil, karena sebagian kebutuhannya sudah dipasok dari produksi nasionalnya. Sementara produksi nasional Indonesia, belum bisa memenuhi gula dengan spesifikasi yang dibutuhkan industri. 

“Mungkin ada pabrik yang sudah bisa memproduksi gula dengan spesifikasi sesuai kebutuhan industri, tetapi volumenya masih kecil. Makanya kita impor gula,” terangnya. 

Impor gula menjadi sorotan pasca ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mentwitkan data tata niaga gula dunia. Faisal menyebutkan, Indonesia berada di urutan satu sebagai importir gula terbesar dunia pada periode 2017 sampai 2018 dengan volume 4,45 juta ton.

“Jumlah itu lebih tinggi dari impor China dengan volume 4,2 juta ton, Amerika Serikat 3,11 juta ton,” katanya.

Faisal mewanti-wanti pemerintah agar mewaspadai praktik pemburu rente karena tingginya impor berdekatan dengan jadwal pemilu. Menurutnya, tingginya impor akan semakin membebani upaya pemerintah untuk keluar dari defisit neraca perdagangan. 

Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengungkapkan, impor gula industri besar karena kebutuhannya mengalami peningkatan. Sementara, industri di dalam negeri belum bisa memenuhinya, baik volume maupun spesifikasinya.
 
Menurut Enggar, industri tidak bisa dipaksa memakai gula lokal karena mereka sudah memiliki standar sendiri. Dan, ternyata, pasokan gula lokal selama ini tidak sesuai spesifikasi mereka. Misalnya, industri minuman Coca Cola. Mereka tidak mau menggunakan gula yang tidak sesuai ketentuan standar internasional. 

“Coca Cola tidak mau terima gula dengan standar International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis atau ICUMSA-nya tinggi. ICUMSA gula di Indonesia itu tertinggi di dunia lho,” terangnya. 

Bukan hanya industri multinasional, lanjut Enggar, industri domestik juga tidak mau memakai gula produksi dalam negeri. “Dodol Garut gampang bulukan kalau pakai yang itu (gula produksi dalam negeri). Ini berdasarkan masukan dari pabrik Dodol Garut ya,” ujarnya. 

Enggar menyebutkan , beberapa perusahaan yang kebutuhan gula industrinya terus mengalami peningkatan. Antara lain Mayora, Wings, dan Indofood. 

Enggar tidak menepis kuota impor yang ditetapkan tahun lalu lebih besar dari kebutuhan. “Selama ini memang pada kenyataannya proyeksi selalu lebih besar dari realisasi. Tetapi hal itu tidak perlu dipersoalkan. Jangan bertaruh soal pangan,” pungkasnya. [NOV]

RM Video