Petani Nilai Alokasi Impor Kegedean

Harga Garam Lokal Bakal Melorot Ke Rp 1.000/Kg

Klik untuk perbesar
Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI ) Jakfar Sodikin (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Alokasi rencana impor garam tahun ini dinilai masih terlalu besar dari kebutuhan meskipun jumlahnya sudah diturunkan. Hal ini dikhawatirkan bakal menekan harga garam lokal.

Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) Jakfar Sodikin memperkirakan produksi garam rakyat tahun ini mencapai 2,7 juta ton. Sementara total kebutuhan konsumsi hanya 4,3 juta ton. Artinya, kekurangannya hanya 1,6 juta ton. 

“Saya harapkan pemerintah merevisi alokasi impor garam tahun ini yang ditetapkam sebesar 2,7 juta ton. Revisi ini penting untuk mencegah penurunan harga garam petani,” ungkap Jakfar   kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Apalagi, lanjut Jakfar, persediaan stok garam tahun lalu masih tersisa sebesar 1,5 juta ton. Jika produksi nasional tahun ini hanya mencapai 2,5 juta ton saja, tanpa ada impor pun stok bisa mencapai 4 juta ton. 

Baca Juga : Didominasi PDIP, Ini Daftar Anggota Pansus Ibu Kota Kaltim

Menurut Jakfar, keberadaan impor garam dalam jumlah besar di dalam negeri akan menekan garam lokal. Harga garam di tingkat petambak sekarang paling tinggi sebesar Rp 1.400 per kilogram (kg). Jika impor tetap dilakukan sebanyak 2,7 juta ton, harga garam lokal bisa jatuh menjadi Rp 1.000 per kg. 

“Kalau impor tinggi, garam kita nggak ada yang beli,” imbuhnya.  Sekadar informasi, saat ini pemerintah sedang melakukan penghitungan ulang stok garam di gudang petani dan industri. Hasil verifikasi nanti akan dijadikan pertimbangan pemerintah di dalam menetapkan keputusan final kuota impor garam. 


Hitungan awal pemerintah yang dilakukan pada akhir tahun 2018, impor garam untuk tahun 2019 dialokasikan 2,7 juta ton. Jumlah itu menurun jika dibandingkan impor 2018 sebesar 3,7 juta ton. Pemangkasan alokasi ini dilakukan karena dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pasokan garam 2018 masih ada sisa sebanyak 1,5 juta ton. 


Produksi Lokal  Makin Baik
Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti yakin produksi garam lokal tahun ini kini semakin baik. Apalagi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan perkiraan cuaca tahun 2019 tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. 

Baca Juga : DPD Gembleng 32 Calon Anggota BPK

“Produksi garam dari petambak garam rakyat tahun ini diperkirakan 2,32 juta ton. Itu belum termasuk produksi PTGaram,” ungkap Brahmantya.  Pada 2018 produksi garam rakyat mencapai 2,34 ton. Sedangkan PT.Garam memproduksi sebanyak 369 ribu ton sehingga total produksi nasional 2018 mencapai 2,71 juta ton. 

Menurut Brahmantya, pemangkasan alokasi impor antara lain mempertimbangkan produksi garam lokal yang terus mengalami kenaikan. Tak hanya itu, dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) menetapkan agar izin impor garam dari Kementerian Perdagangan bisa dikurangi secara bertahap. 

 Direktur Jenderal Industri, Kimia, Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemeperin) Achmad Sigit Dwi wahjono menerangkan, alokasi impor sebesar 2,7 juta ton merupakan kebutuhan garam industri. 

“Kalau garam masih ada stok. Itu menurut KKP. Sehingga garam konsumsi tidak perlu ada impor. Tapi, untuk industri masih perlu impor, cuma tidak akan sebesar tahun lalu karena stok yang masih ada,” katanya. 

Baca Juga : PWI Beri Gelar Habibie Sebagai Bapak Kemerdekaan Pers

Achmad menerangkan, impor dibutuhkan karena ada beberapa industri yang memerlukan garam khusus yang belum bisa disubstitusi oleh produksi garam lokal. Antara lain kebutuhan industri kertas, farmasi, kosmetik, tekstil dan makanan minuman. [KPJ]

RM Video