Eksklusif Dengan Presiden Direktur PT Inalum, Budi Gunadi Sadikin

Jangan Cuma Jadi Pedagang, Bangun Juga Industri

Klik untuk perbesar
Presiden Direktur PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero atau Inalum), Budi Gunadi Sadikin. (Foto; Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah Freeport kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, masih banyak rencana besar Pemerintahan Jokowi di urusan Pertambangan. Budi Gunadi Sadikin, Presiden Direktur PT Inalum, salah satu yang berusaha keras menerjemahkan cita-cita Presiden Jokowi ke dalam program-program strategis pembangunan di bidang tersebut. 

Ini penting dikerjakan, sebab dampaknya sangat dahsyat. Pertumbuhan ekonomi bisa melompat dan problem defisit transaksi berjalan (current account defisit), yang selama ini jadi “ganjalan” di laporan keuangan negara bisa lenyap.

Berita Terkait : Pasca Freeport di Pangkuan Indonesia, What’s Next...


Budi Gunadi Sadikin ngobrol santai dengan tim Rakyat Merdeka, di penghujung Januari. Di kantornya, lantai 16 Energy Building, Kawasan SCBD Jakarta, Kamis (31/1) malam. Kantornya sederhana dan didesain modern minimalis. Ruang rapatnya di-set menyerupai tempat ngopi ala milenial dan sangat cozy

Ditemani teh, kopi sambil dinner. dengan menu sate dan bakso, tema obroloan yang serius pun, jadi terasa lebih menyenangkan. Rakyat Merdeka hadir bertujuh. Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari, Sarif Hidayat, Firsty Hestyarini, Pandu Jati dan wartawan foto Khairizal Anwar. 

Berita Terkait : Bahan Mentah Olah Di Sini Untuk Kebutuhan Kita

“Harusnya, bahan mentah yang kita pakai itu, bahan yang kita punya, tidak usah diekspor, olah di sini, untuk memenuhi kebutuhan kita. Tapi, kita malas membangun industri. Maunya cuma jadi pedagang dan cepat untung. Importirnya pedagang, eksportirnya juga pedagang. Tak ada yang mau membangun industri hilirisasi,” ujar Budi Gunadi dengan semangat. Inilah petikan wawancaranya. 


Jadi, apa saja tugas dari Presiden, saat anda masuk ke Inalum?
Amanahnya ada tiga. Pertama, mengelola cadangan mineral strategis. Jadi, perusahaan-perusahaan tambang asing yang besar harus kita ambil alih. Selain Freeport, nanti ada lagi. Kedua, hilirisasi. 

Baca Juga : Rusuh Papua, Bamsoet Minta TNI/Polri Jaga Freeport dan Tempat Strategis Lain

Yaitu, melakukan gasifikasi batu bara menjadi DME (Dimethyl Ether, sebagai bahan bakar gas alternatif selain Elpiji-red). Membuat Bauksit menjadi Alumina, Copper menjadi Katoda, dan Nickel menjadi baterei. 

Dan ketiga, amanah agar perusahaan tambang kita masuk ke kelas dunia. Itu semua ukurannya di Fortune 500. Untuk masuk ke list di situ, perusahaan mesti memiliki revenue minimal 21 miliar dolar AS. ***

RM Video