Jokowi Soal Target Pertumbuhan Ekonomi Tak Tercapai

Kita Jangan Kufur Nikmat, Terus Perbaiki Perizinan

Klik untuk perbesar
Presiden RI, Joko Widodo. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi tak kecewa target pertumbuhan ekonomi 2018 tidak tercapai. Baginya, bisa tumbuh di atas 5 persen sudah cukup baik.

Jokowi mengaku bersyukur ekonomi 2018 bisa tumbuh 5,17 persen di tengah gejolak perekonomian global. Apalagi, capaian itu, tertinggi selama dia menjabat.

"Kita jangan kufur nikmat, kalau diberi kenikmatan pertumbuhan ekonomi yang di atas 5 persen, Alhamdulillah disyukuri," ujar Jokowi usai menghadiri Perayaan Imlek Nasional di Kemayoran, Jakarta, kemarin.

Jokowi menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh lebih baik ketimbang negara-negara G-20 lain. Selain itu, inflasi juga rendah, 3,13 persen. Namun demikian, ditegaskannya, dirinya akan terus berupaya  meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan. Pemerintah akan akan menggenjot ekspor dan mendorong peningkatan investasi. “Kita terus memperbaiki menyederhanakan perizinan-perizinan yang ada di pusat maupun di daerah, " tuturnya.

Berita Terkait : Pertumbuhan Ekonomi Jakarta, BI: Kuncinya Stabilitas Harga


Dalam  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,40 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen, target pertumbuhan yang ditetapkan pemerintah di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 sebesar 7 persen sudah bisa dipastikan tidak tercapai.

Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika menilai, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17 persen sebagai sebuah prestasi di tengah perlambatan yang terjadi di negara-negara lain.  

“Untuk kawasan Asia Tenggara, ekonomi Indonesia dapat dikatakan baik. Pertumbuhan ekonomi Malaysia pada kuartal IV-2018 lalu hanya mencapai 4,4 persen. Kita terbang saat negara lain menukik turun," katanya.

Erani bersyukur sektor manufaktur tetap tumbuh. Tahun 2018 mencapai 4,27 persen, lebih baik dari 2015 yang hanya bertumbuh 4,25 persen. Begitu pula sektor pertambangan yang meningkat signifikan tahun lalu sebesar 2,16 persen dari minus 5,08 persen pada 2015. "Setidaknya pemerintah mampu menjaga pertumbuhan positif manufaktur saat proses transformasi ekonomi berjalan," ujarnya.

Berita Terkait : Triwulan I, BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Tetap Kuat

Erani juga mengaku puas dengan kinerja pemerintah mampu menjaga inflasi tetap rendah. Hal ini berdampak kepada pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5,05 persen atau naik dari 4,98 persen pada 2017. Berbagai program menjaga daya beli diinisiasi pemerintah seperti Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Beras Sejahtera (Rastra), dan Rumah Pangan Kita, berhasil menjaga pertumbuhan. 


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menerangkan, target pertumbuhan ekonomi 7 persen tidak tercapai karena sulit mencapainya.  Proyek infrastruktur yang dibangun pemerintah sampai saat ini belum mampu memberi dampak signifikan dan cepat terhadap pertumbuhan ekonomi.  

"Pertumbuhan yang lebih tinggi itu mungkin tergantung pada komposisi belanja pemerintah. Dalam lima tahun terakhir, pemerintah sudah membenahi infrastruktur  tapi pertumbuhannya tidak sampai seperti apa yang kami harapkan," jelasnya. 

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto menilai, capain pertumbuhan ekonomi 2018 cukup baik. Karena, pertumbuhan stabil di kisaran 5 persen.

Berita Terkait : Pelaku UKM Nikmati Beragam Program Kemudahan Usaha

“Trennya di atas 5 persen, itu cukup positif. Kita harapkan ke depan bisa lebih baik,” katanya.

Data BPS menyebutkan, pertumbuhan ekonomi paling besar disokong dari kinerja konsumsi rumah tangga. Konsumsi ruma tangga tumbuh 5,05 persen memberikan andil terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diatas 50 persen. [KPJ]

RM Video