Ketersediaan Cadangan Makin Menipis

Jonan: Suatu Hari Nanti Bisnis Migas Tak Kompetitif

Klik untuk perbesar
Menteri ESDM, Igansius Jonan. (Foto: Twitter @ Kementrian ESDM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pelaku industri minyak dan gas (migas) diimbau agar memutar otak untuk mengantisipasi ancaman yang dapat mengganggu keberlangsungan bisnis pada sektor ini.

Imbauan itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Menurutnya, ketersediaan migas di seluruh dunia sudah semakin menipis. Industri migas harus bisa memastikan bisnisnya tetap kompetitif dengan potensi penurunan ketersediaan kekayaan alam itu. Selain itu, pelaku industri migas harus memperhatikan nilai migas kerap alami fluktuasi.

“Menjadi kebiasaan, terutama di sektor hulu migas, cost (biaya produksi) itu jadi sesuatu yang tidak pernah dihitung. Karena mungkin menganggap barangnya pemberian dari Tuhan. Hal itu harus diselesaikan. Kalau tidak, suatu hari nanti industri migas akan tidak kompetitif dan akan habis,” ungkap Jonan dalam keterangan resminya, kemarin.

Jonan menuturkan, ke depan industri migas harus mereposisi agar bisa lebih kompetitif dengan industri lain. Salah satu yang bisa dilakukan dengan menekan biaya produksi.

Berita Terkait : Menteri Jonan Dorong Industri Gas Agar Lebih Kompetitif

“Sektor migas ini harganya bergantung pada harga internasional. Nggak ada yang bisa menentukan harga. Jadi kalau tidak bisa kendalikan harga jual, yang harus kita kendalikan itu biaya produksi harus kompetitif,” imbuhnya.

Namun demikian, Jonan menegaskan, dirinya optimistis bisnis industri migas akan tetap tumbuh positif. Dan, tetap memiliki nilai strategis dalam perekonomian nasional. Hal itu bisa dilihat dari besaran penerimaan negara.

Pada tahun 2018, penerimaan migas mencapai Rp 228 triliun. Jumlah itu didapatkan dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp163,4 triliun dan Pajak Penghasilan (PPH) Rp 64,7 triliun. Jumlah itu melampaui penerimaan yang ditargetkan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 125 triliun.

Jonan memperkirakan ke depan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan kendaraan listrik bakal menjadi sektor industri yang bakal banyak mempengaruhi tatanan perekonomian. Kedua bidang tersebut akan punya nilai sama pentingnya dengan sektor Artificial Intelligent (AI) dan digital.

Berita Terkait : Gas Mengalir Terus 24 Jam Penuh

Dia memaparkan, potensi terus berkembangnya EBT dan kendaraan listrik bisa dilihat dari meningginya nilai investasi yang masuk dari tahun ke tahun. Pada 2017, nilai investasi EBT sebesar 1,34 miliar dolar Amerika Serikat (AS), dan naik menjadi 1,6 miliar dolar AS pada 2018.

“Kenaikan investasi tersebut tak lepas dari adanya penandatanganan 74 kontrak Power Purchase Agreement (PPA) dengankapasitas pembangkit sebesar 1.576 Mega Watt (MW) yang terjadi sejak 2017 hingga 2018. Tak hanya itu, pembangunan pembangkit listrik berbasis EBT pun meningkat,” ujarnya.

Jonan menargetkan tahun ini nilai investasi dari sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) naik mencapai 1,9 miliar dolar AS.

Sementara untuk kendaraan listrik, lanjut Jonan, pemerintah berkomitmen mendatangkan teknologi elektronik vehicle (EV) dan menuangkannya dalam Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional.

Berita Terkait : Agar Berdaya Saing, Industri Migas Harus Tekan Biaya Operasional

“Dengan begitu, terjadi peningkatan populasi kendaraan bertenaga listrik atau hybrid pada 2025 sebesar 2.200 unit mobil dan 2,1 juta unit sepeda motor,” jelasnya.

Pengamat Energi Marwan Batubara mengamini cadangan migas terus berkurang. Menurutnya, untuk memastikan keberlangsungan bisnis jangka panjang baik sektor migas maupun minerba diperlukan pengelolaan sumber daya alam yang semakin hati-hati.

“Kita tahu cadangan terus mengecil, kita harus melakukan pembenahan secara bersama-sama agar jangan sampai 8 sampai 10 tahun mendatang, kita menjadi importir energi,” ungkapnya. [NOV]

RM Video