Sri Mulyani Soal Ekonomi

Di Sana Loyo, Di Sini Perkasa

Klik untuk perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi global tahun ini diprediksi mengalami perlambatan. Hal itu terjadi akibat sejumlah negara besar menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya. Bagaimana dengan ekonomi Indonesia? Masih perkasa, meski di sana loyo. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengamini kalau pelemahan ekonomi dunia akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi, Ani-sapaan akrab Sri Mulyani, pede pertubuhan ekonomi Indonesia tetap bisa di atas 5 persen. Namun demikian, dia menekankan sumber pertumbuhan di dalam negeri harus bisa dijaga. 

“Sumber pertumbuhan itu adalah investasi, konsumsi dan government spending. Semuanya harus mampu menjalankan fungsinya,” ujar Ani di BSD, Serpong, Tangerang kemarin. 

Berita Terkait : Sri Mulyani Ngarep Lebaran Dongkrak Ekonomi


Ani menuturkan, Indonesia akan terus terus meningkatkan ekspor, khususnya ke mitra dagang. Meski hal tersebut cukup berat lantaran masih terdampak pelemahan ekonomi negara besar seperti Eropa, China dan India. 

Namun demikian, tetap ada potensi untuk mengerek kerja ekspor. Negara lain seperti Filipina, Bangladesh hingga Pakistan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Sehingga ada populasi dan pasar yang cukup besar. 

“Indonesia harus bisa menjaga momentum. Kita juga harus tetap menjaga agar ekspor meningkat. Kalau untuk impor kita bisa menahan dengan kebijakan bio diesel 20 persen (B20), maka dari sisi external balance negatifnya jadi lebih kecil,” jelasnya. 

Berita Terkait : Erin Taulany Balik Dihina Gila Harta

Jika sumber pertumbuhan terjaga, lanjut Ani, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjaga, malah bisa meningkat tahun ini. Terlebih, kondisi ekonomi Indonesia kuartal I tahun ini cukup baik jika dilihat dari indikator Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi yang rendah. Tercermin dari harga yang cukup stabil, konsumsi tetap terjaga di kisaran 5 persen. 


Ani menuturkan, kinerja investasi 2018 memang masih di bawah 7 persen. Namun, dia optimistis pertumbuhannya tahun ini bisa lebih baik, karena perbankan nasional sudah memiliki keuntungan yang baik, pertumbuhan kredit yang positif dan di atas double digit. Selain itu, kapitalisasi di pasar saham juga sudah cukup besar. Dia mengharapkan Initial Public Offering (IPO) yang dilakukan perusahaan tetap terjadi. 

“Pemerintah akan tetap berbagi upaya investasi dan melibatkan swasta. Sehingga private investment tetap terjaga, selain pemerintah akan menjaga capital spending maupun belanja barang hingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” jelasnya. 

Berita Terkait : Yang Pro Bilang Hebat dan Keren Yang Anti Ungkit Utang dan Asing

Sementara itu, Presiden The International Chamber of Commerse (ICC) Indonesia Ilham Habibie menilai, Indonesia masih akan terpengaruh gejolak ekonomi global. 

“Ekonomi, khususnya perdagangan Indonesia tahun ini masih akan terpengaruh pelambatan-pelambatan tersebut. Termasuk terkena dampak negatif perang dagang antara Amerika Serikat dan China,” kata Ilham kepada Rakyat Merdeka


Akibat kondisi tersebut, lanjut Ilham, akan membuat neraca perdagangan Indonesia alami tekanan. Misalnya, akibat masih berlangsungnya perang dagang AS-China, banyak barang-barang dari negeri Tirai bambu masuk ke dalam negeri. [NOV]

RM Video