Penumpang Pesawat Merosot

Bisnis Transportasi Dan Pariwisata Kedodoran

Klik untuk perbesar
Ilustrasi pesawat. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mahalnya harga tiket pesawat membuat jumlah penumpang moda angkutan udara tersebut merosot. Kondisi itu berimbas kepada kinerja sektor transportasi dan pariwisata.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang angkutan udara pada Maret 2019 hanya sebesar 6,03 juta atau merosot 21,94 persen dibandingkan Maret 2018 yang mencapai 7,73 juta. Secara kumulatif  pertumbuhan jumlah penumpang pesawat domestik merosot 17,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 18,32 juta. 

“Penyebab penurunan jumlah penumpang angkutan udara domestik disebabkan harga tiket yang masih tinggi,” ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, kemarin. 

Kecuk menyebutkan kenaikan harga tiket pesawat terjadi di 39 kota. Di antaranya Banjarmasin mengalami kenaikan sebesar 23 persen, Surakarta naik 16 persen, Tanjung Pinang naik 13 persen, Malang naik 12 persen, Maumere dan Singkawang naik 11 persen, Pontianak sebesar 10 persen.

Berita Terkait : Hati-hati, Teliti Dulu Kalau Mau Beli Tiket Pesawat

Meskipun turun, lanjut kecuk, secara bulanan jumlah penumpang domestik pada Maret 2019 tumbuh 7,18 persen dibandingkan Februari 2019. 

Berbeda dengan domestik,  jumlah penumpang internasional mengalami kenaikan. Jumlah penumpang internasional pada Maret mencapai 1,55 juta orang atau naik 10,67 persen bila dibandingkan Februari 2019 1,40 juta orang. 


Kecuk mengungkapkan, harga tiket masih mengalami kenaikan hingga April 2019. Hal itu tercermin dari andil angkutan udara terhadap inflasi April 2019 sebesar 0,44 persen.

“Penurunan jumlah penumpang pesawat domestik perlu menjadi perhatian. Kalau terus dibiarkan, penurunan tersebut bisa berpengaruh pada sektor transportasi dan pariwisata. Dan, lebih luas akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

Berita Terkait : Riset BRG, Masyarakat Masih Mampu Beli Tiket Pesawat Rp 1,5 Juta

BPS mencatat pada Maret lalu jumlah hunian hotel klasifikasi bintang sebesar 52,89 persen atau turun 4,21 poin dibandingkan Maret 2018 sebesar 57,10 poin. Sementara dibandingkan bulan sebelumnya, jumlah hunian Maret mengalami peningkatan 0,45 poin dari posisi Februari 2019 sebesar 52,44 poin. 

Kecuk menambahkan,  pihaknya menangkap indikasi terjadinya perpindahan penumpang pesawat ke moda transportasi lain akibat mahalnya harga tiket. BPS mencatat jumlah penumpang kapal pada Maret mencapai 1,71 juta orang atau naik 7,68 persen secara tahunan. Sementara, jumlah penumpang kapal mengalami peningkatan 3,43 persen dibandingkan jumlah Februari 2019 sebesar 1,59 juta orang. Selain itu, jumlah penumpang kereta pada Maret mencapai 35,75 juta orang atau naik 12,08 dibandingan bulan sebelumnya.

Belum Tentu Rugi
Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menilai, penurunan jumlah penumpang pesawat belum tentu membuat maskapai rugi. Sebab untung atau rugi maskapai tergantung harga tiket yang dijual, tingkat keterisian, dan frekuensi penerbangan.

"Jadi kalau harga tiket tinggi, load factor bagus, dan frekuensi penerbangan lebih sedikit, bisa saja lebih untung jika dibanding harga rendah, frekuensi banyak, dan load factor sedang,” ungkap Gatot.

Berita Terkait : Menpar Salahkan Tiket Pesawat

Gatot menjelaskan, frekuensi rendah misalnya  cuma 5 kali terbang tentu lebih murah dibanding kalau frekuensi 10 kali.Tidak selalu jumlah penumpang yang turun merugikan maskapai. 


Gatot menilai, tingginya harga tiket karena saat ini maskapai sedang berjuang mencari keuntungan. Dai yakin maskapai sudah punya hitung-hitungannya agar untung di tengah penurunan jumlah penumpang. [KPJ]