Kuartal I-2019 Negatif

Brodjo: Kinerja Ekspor Kita Masih Tradisional

Klik untuk perbesar
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro. (Foto : Net).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kinerja ekspor kuartal I-2019 negatif. Penyebabnya tidak semata-mata faktor ketidakpastian ekonomi dunia. Tetapi juga karena Indonesia belum mampu menambah komoditas baru ekspor.

Analisa itu disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro. Menurut Brodjo, sapaan akrab Bambang, kinerja ekspor negatif disebabkan perekonomian dunia belum pulih. Selain itu, dari sisi internal, Indonesia belum mampu mengembangkan komoditas baru untuk ekspor. 

“Pemerintah masih kesulitan menemukan sektor unggulan untuk meningkatkan ekspor. Sehingga masih bergantung kepada ekspor yang tradisional (bahan baku/komoditas-red),” kata Brodjo di Jakarta, Senin (6/5) malam. 

Sementara itu, lanjut Brodjo, komoditas yang selama ini menjadi andalan ekspor sedang mengalami tekanan seperti minyak sawit (Crude Palm Oil / CPO), karet, dan batubara. 

Berita Terkait : Pemerintah Patok Laju Ekonomi 6 %


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi RIpada kuartal I-2019 sebesar 5,07 persen. Pertumbuhan itu turun 0,52 pesen dibanding kuartal sebelumnya. Namun demikian, capaian itu masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, 5,06 persen. 

Pertumbuhan ekonomi kuartal- 2019 landai antara lain disebabkan kinerja ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi sebesar -2,08 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor migas dan ekspor jasa mengalami kontraksi yang cukup dalam. Ekspor migas turun -9,42 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan ekspor jasa menurun -5,25 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Brodjo optimistis, pertumbuhan ekonomi kuartal berikutnya bisa lebih baik. Menurutnya, langkah cepat yang bisa diambil untuk mengejar kembali target pertumbuhan. Yakni, mencairkan komitmen investasi yang sudah didapatkan. Bahkan, bila komitmen tersebut bisa segera direalisasikan, pemerintah tidak perlu terlalu kerja keras mencari investasi baru. 

“Kuartal Iwajar investor wait and see karena ada pemilu. Sekarang pemilu sudah lewat. Mudah-mudahan saja semua komitmen investasi bisa segera direalisasikan,” ungkapnya. 

Berita Terkait : Soal Ibu Kota Baru, 4 Gubernur Nyatakan Kesiapan

Brodjo menekankan, walau mengejar realisasi investasi, pemerintah harus tetap mendorong kinerja ekspor, meskipun memerlukan waktu yang tidak singkat. 


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memiliki pandangan sama. 

“Ekspor yang dilakukan pemerintah memang masih monoton. Makanya ketika terjadi perang dagang, saat harga komoditas anjlok, kinerja ekspor langsung melorot,” papar Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Bhima menilai, pemerintah lambat di dalam menggenjot komoditas baru. Padahal, banyak yang bisa didorong agar bisa tumbuh lebih besar seperti tekstil dan furniture. 

Berita Terkait : Kuartal I, Kinerja Telkom Moncer

Selain keterbatasan komoditas unggulan, Bhima menilai, kinerja ekspor minus juga karena tujuan ekspor masih tradisional. Padahal, banyak pasar alternatif yang prospeknya positif. “Semua persoalan ekspor kita tidak lepas dari keterlambatan proses industrialisasi karena terlena periode booming komoditas pada tahun 2008 sampai 2009,” ungkapnya. 

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Benny Soetrisno mengakui produk unggulan Indonesia masih terbatas. “Oleh karena itu, kami meminta pemerintah mendorong Usaha Kecil dan Menengah untuk menjadi eksportir baru,” ungkapnya. [KPJ]

RM Video