Harga Bawang Putih Sudah Turun, Kementan Tegas Terhadap Importir Nakal

Klik untuk perbesar
Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi bersama para anggota DPR saat memantau kebijakan tanam bawang putih. (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Harga bawang putih yang berangsur normal dan turun di beberapa daerah mendapatkan respons positif masyarakat. Ketua Asosiasi Hortikultura Nasional Anton Muslim Arbi memuji langkah cepat pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian (Kementan) menstabilkan suplai bawang putih di pasaran. Langkah operasi pasar yang masif di 40 lokasi berhasil menurunkan harga bawang putih. 

“Kami berterima kasih ke Mentan (Menteri Pertanian Amran Sulaiman) mau segera turun tangan menambah suplai bawang putih. Ini sangat membantu masyarakat di tengah bulan Ramadan," ujar Anton, di Jakarta, Rabu (15/5).

Terkait riuhnya isu wajib tanam 5 persen bawang putih bagi importir yang menyudutkan Kementan, Anton mengaku heran dengan pihak-pihak yang mendiskreditkan kebijakan Kementan terkait wajib tanam RIPH. 

Berita Terkait : Kementan Gaet Wageningen University Research untuk Rancang Proyek Sayuran


"Urusan harga dan perijinan impor kan adanya di Kemendag. Kenapa yang dicari-cari masalahnya hanya Kementan? Saya sudah cek sendiri di lapangan, banyak kok importir yang dengan sukarela menjalankan wajib tanam bawang putih. Kalau ada importir yang masih terus menggoyang kebijakan wajib tanam ini kan aneh. Patut di selidiki lebih lanjut siapa saja pihak dibalik ini dan apa motifnya," kata Anton.

Anton mendukung agar Kementan dan Satgas Pangan segera melakukan penindakan terhadap oknum importir yang kedapatan melakukan mangkir wajib tanam 5 persen dari total impornya. "Kebijakan Kementan sangat bagus untuk menumbuhkan kembali semangat petani menanam kembali bawang putih seperti masa lalu", ungkapnya. 

Anton berharap petani akan mampu mencukupi sendiri kebutuhan nasional dan Indonesia tidak lagi tergantung dengan impor. "tentunya ini akan sangat tidak nyaman bagi mereka yang senangnya impor. Kita pertanyakan keberpihakan mereka pada rakyat kecil," kata Anton. 

Berita Terkait : Genjot Devisa, Kementan Kembali Ekspor Bawang Merah dan Jahe

Senada dengan Anton, anggota Komisi IV DPR Mindo Sianipar juga mengapresiasi langkah Kementan yang telah melakukan operasi pasar dan mempersiapkan lahan produksi baru bawang putih hingga 2021. "Kami wajib mendukung kebijakan pemerintah yang positif ini. Keberpihakan pada petani terus dilakukan Kementan, dan kami senang," ujar Mindo.


Mindo menegaskan segala upaya khusus yang telah dilakukan Menteri Amran Sulaiman telah memberikan hasil yang positif. Mindo memuji Kementan yang telah berani melakukan blacklist 56 importir bawang nakal dan mencabut ijinnya. Pihak parlemen akan terus bersama pemerintah mengawal pangan nasional tersedia kebutuhannya dengan baik serta percepatan proses distribusinya. 

Terkait penerbitan RIPH oleh Kementan, Mindo menilai prosedur yang diterapkan telah tepat. Pihaknya telah mendapatkan klarifikasi yang utuh terkait isu keterlambatan rekomendasi yang diterbitkan Kementan. "Berdasarkan hasil Rakortas Menko di bulan Maret, Kementan sudah menerbitkan RIPH, dan juga pada Bulog agar cepat melakukan impor. Namun Ijin Impornya tidak terbit dan itu bukan kewenangan mereka," tegasnya. 

Berita Terkait : Kebijakan Mentan Bangun Logistik Pangan Skala Besar Mulai Terwujud

Mindo sangat menyayangkan ada pihak-pihak yang menebar opini menyesatkan terkait bawang putih, padahal bisa jadi punya motif tertentu untuk kepentingan kelompoknya. "Ada pihak yang menyebut Menteri Pertanian menetapkan harga bawang putih Rp 35 ribu per kilo. Ini kan keliatan sekali kalau mereka tidak paham fakta lapangan. Tidak update," ungkap Mindo. 

Kebijakan operasi pasar sangat baik dan menunjukkan empati serta kepedulian konkrit Kementan terhadap konsumen. Dan saat ini Fakta menunjukkan harga bisa berangsur turun di hampir semua daerah di Indonesia, meskipun tidak secara drastis turunnya. Kementan sudah menggelar operasi pasar murah di Pasar Induk Kramat Jati, 40 pasar DKI Jakarta dan pasar-pasar besar di Surabaya, Medan, Padang, Bandar lampung, Denpasar, Makasar, Kaltim, Sulbar dan daerah-daerah lainnya. [KAL]

RM Video