Tol Laut Lokomotif Pembangunan Indonesia Timur

Klik untuk perbesar
Bedah buku Tol Laut Jokowi Denyut Ekonomi NKRI di Jakarta, Senin (20/5).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tenaga Ahli Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP) Jojo Raharjo mengatakan, program Tol Laut dirancang menjadi lokomotif pembangunan di kawasan Indonesia Timur. Bukan sekadar menunjang kelancaran arus barang dan logistik, tapi juga menekan biaya logistik. 

Kata Jojo, Tol Laut diharapkan dapat mempercepat integrasi antara kawasan pelabuhan dengan kawasan industri dan klaster-klaster ekonomi untuk menopang kebutuhan barang. Tol laut juga menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara wilayah barat dengan timur. 

"Melalui program ini, dikembangkan kawasan industri atau kawasan ekonomi baru di sekitar pelabuhan utama maupun pelabuhan pengumpul agar terjadi keseimbangan pengangkutan barang," katanya dalam bedah buku Tol Laut Jokowi Denyut Ekonomi NKRI di Jakarta, Senin (20/5).

Berita Terkait : La Nyalla: Era Jokowi Percepat Pembangunan Indonesia Sentris

Menurutnya, secara bertahap Tol Laut telah menekan disparitas harga antara Indonesia Barat dan Timur. Ini ditandai dengan penurunan harga kebutuhan pokok daerah tujuan sekitar 20-40 persen, di samping membuka pasar baru bagi potensi ekonomi di kawasan timur.

Berdasarkan catatan KSP, harga semen di Wamena, Papua, turun sekitar 35 persen menjadi Rp 300 ribu per zak. Di Wasior, harga beras turun 4 persen, semen 8 persen, besi 10 persen, dan seng 9 persen.


Di Nusa Tenggara Timur, dampak penurunan disparitas harga cukup terasa dibandingkan dengan Papua. Misalnya di Larantuka, penurunan harga barang pokok berkisar 5-15 persen. 

Berita Terkait : Djan Faridz Dukung Tim Davis Indonesia

Di samping itu, aktivitas ekonomi lokal mulai menggeliat dengan pengangkutan ikan ke Surabaya. Adapun di Rote, harga barang pokok turun 6-13 persen.

"Indikator sederhana dapat dicermati dari peningkatan mobilitas manusia dan mobilitas barang," jelasnya.

Bekas Manager Komunikasi & Hubungan Kelembagaan Pelni sekaligus penulis buku Akhmad Sujadi menilai, keberadan Tol Laut ikut membantu perekonomian masyarakat di daerah tertinggal, terpencil, terdepan dan perbatasan.

Berita Terkait : Balas Kekalahan, Timnas U-19 Indonesia Berhasil Tekuk Iran

Menurutnya, Tol Laut juga tidak hanya mengoperasikan kapal kargo untuk angkutan bahan pokok dan barang penting. Namun Tol Laut juga mengoperasikan kapal ternak. Kini, telah bertambah menjadi 6 kapal ternak yang dioperasikan Pelni, ASDP Indonesia Ferry dan perusahaan pelayaran swasta nasional.

Sehingga distribusi ternak antarpulau bisa dimaksimalkan. "Sebelum ada kapal ternak, untuk mengirim sapi dari NTT, NTB dan Bali ke Jawa menggunakan kapal kargo yang disekat dengan bambu. Untuk menaikkan hewan, sapi diikat dan  diangkat dengan crane, hewan menjadi stres dan bobotnya susut hingga 22 persen," jelasnya. [KPJ]