Ketua MPR: Dengan Gaya Amran, RI Bisa Jadi Penggekspor Pangan

Klik untuk perbesar
Ketua MPR Zulkifli Hasan (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Zulkifli Hasan bersyukur kinerja sektor pertanian dalam negeri terus moncer di era pemerintahan Jokowi-JK.

Menurutnya, makin membaiknya kinerja pertanian tidak lepas dari figur Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang terus bekerja keras memastikan negeri ini tidak lagi menjadi langganan impor pangan. Bahkan sebaliknya, membalikkan keadaan dengan menjadi negara pengekspor.

"Sehingga wajar kalau di masa Pak Amran Sulaiman, Indonesia berhasil mengekspor beberapa komoditas pertanian," kata Zulkifli Hasan.

Dalam pandangan Ketua Umum PAN tersebut, selama 4,5 tahun ini, cukup banyak prestasi yang ditorehkan Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satunya adalah terus membaiknya produktifitas berbagai komoditas pertanian. Ini tidak lepas dari berbagai terobosan dan program pertanian yang tepat sasaran dan mendorong kemakmuran petani. 

Berita Terkait : Baru Lion yang Turunkan Harga Tiket, Itu Pun Promo

Dia pun berharap, tekad Amran untuk mewujudkan kedaulatan pangan di dalam negeri bisa dicontoh para pengambil kebijakan lain.  Salah satunya dalam hal mengendalikan impor untuk sejumlah komoditi yang selama ini selalu saja bergantung dari negara lain. 


Bagi Zulhas-sapaan akrab Zulkifli Hasan, dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, Indonesia tidak lagi menjadi negara langganan impor pangan dan bergantung kepada produk-produk asing. Bahkan seharusnya mendorong komoditi-komoditi dalam negeri untuk bisa ‘Go Internasional’.

"Berharap dengan gaya Pak Amran begini, Indonesia bisa terus ekspor, nggak perlu lagi impor," yakin Zulhas. 

Sebagai informasi, saat Kementan dipimpin Amran Sulaiman, dari tahun 2014-2018 Indonesia mampu mencatat peningkatan keseluruhan nilai ekspor pertanian hingga Rp 1.764 triliun. Ekspor pertanian terbesar kurun waktu empat tahun itu diperoleh dari subsektor perkebunan.

Berita Terkait : Priangan Timur Berpotensi Tingkatkan Produksi Pisang Nasional

Dari data yang ada, tahun 2018 Indonesia mampu mendorong kenaikan ekspor pertanian Rp 384,9 triliun atau 29,7 persen dibandingkan 2016. Sedangkan dari volume ekspor, tahun 2018 meningkat sebanyak 42,5 juta ton dari 2017 yakni berjumlah 41,3 juta ton. BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan pertanian Indonesia tahun lalu mampu surplus sebesar USD 10 miliar. 

Sebelumnya, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai kinerja sektor pertanian saat ini berkontribusi besar menjamin agar stabilitas pangan tetap terjaga. Hasilnya, selama beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Indonesia telah berhasil menekan terjadinya gejolak inflasi pangan. Kinerja pertanian terbukti memberikan manfaat positif untuk masyarakat dan ekonomi negara. Dia pun mengapresiasi upaya keras Kementan untuk memastikan inflasi selalu terjaga sesuai target pemerintah. “Inflasi sangat terkendali, malah cenderung tampak menurun," ucap Bamsoet.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo memandang kinerja Kementerian Pertanian di era Andi Amran Sulaiman sudah sangat bagus. Dalam pengawasan Dewan, banyak program-program di sektor yang sudah kelihatan hasilnya. “Saya lihat dalam pengawasan kami, Menteri Pertanian sudah sangat bagus. Walau mohon maaf ya, fokusnya baru pangan,” kata Edhy.


Edhy tidak menyalahkan jika fokus Kementan lebih kepada sektor pangan karena memang sektor ini sangat vital. Komoditi seperti beras dan jagung memang sangat rentan sehingga terus ditingkatkan produksinya. “Kalau lihat program (Kementan) sudah ada bagaimana kita penguatan di sektor pangan. Walau sebenarnya ini pun belum cukup karena masih ada sektor lain seperti sayur-sayuran, buah-buahan,” katanya.

Berita Terkait : Dua Bulan Diuji Pakai, Biodiesel B100 Kementan Terbukti Lebih Hemat

Edhy menganggap, secara garis besar sudah banyak terobosan yang patut diacungi jempol. Selain program swasembada beras dan jagung, juga program swasembada sapi. “Terobosan-terobosan seperti SIWAB (program Sapi Wajib Bunting) itu sudah bagus. Cuma itu masih sebagian. Kenapa, karena kenyatannya kita masih tergantung susu dari luar. Ini belum kita bicara sapi bakalan. Tapi program SIWAB saya katakan berhasil,” tambah dia.

Namun demikian, kata dia, masalah terbesar yang dihadapi saat ini adalah fluktuasi harga. Hanya saja, masalah ini menjadi tanggungjawab di sektor perdagangan. Kementan sendiri bertanggung jawab sepenuhnya pada upaya peningkatan produksi. 

Selain masalah harga, lanjut dia, juga dari sisi anggaran yang ada. Sebab belanja pemerintah untuk sektor pertanian masih sangat kecil. Edhy menjelaskan, anggaran Kementan setiap tahunnya selalu mengalami penurunan. Jika di awal pemerintahan Jokowi-JK, anggaran pertanian hampir mencapai angka Rp 32 triliun, sekarang terus menurun hingga 2019 tersisa sekitar Rp 22 triliun. 

“Padahal anda tahu yang harus diurus di sektor pertanian ini banyak sekali. Padahal kalau uang ini kita belanjakan untuk sektor pertanian, itu uang tidak lari kemana-mana. Jadi produktifitas. Anda bisa menanam beras sebanyak-banyaknya. Beras bisa kita jual ke luar negeri. Kita bisa ekspor beras kok. Lahan kita sangat bagus untuk bisa tanam beras. Luar biasa,” tambah dia. [KAL]
 

RM Video