Aksi Mei Mereda

Dolar Jinak, Rupiah Menguat

Klik untuk perbesar
Rupiah menguat terhadap dolar.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Situasi ekonomi pasca demo 22 Mei, mulai berangsur pulih. Terbukti nilai tukar rupiah yang kembali menguat ke level Rp 14.440 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan Jumat (24/5). 

Penguatannya pun cukup signifikan dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp 14.480 per dolar AS. Begitu juga dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Membuka perdagangan, IHSG melanjutkan penguatan 13,727 poin ke 6.046 dan indeks LQ45 naik 2,796 poin ke 945,755.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai, kondusifnya keamanan di Jakarta membuat ekonomi mulai membaik “Situasi membaik, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS. Ditambah faktor mata uang kuat Asia, yen, dolar Hong Kong dan dolar Singapura kompak dibuka menguat terhadap dollar AS, yang kemungkinan akan bisa menjadi sentimen penguatan rupiah,” katanya di Jakarta kemarin.

Baca Juga : Tentukan Lokasi dan Target Tinggi PB FORKI


Namun, kata Lana, pengaruh penguatan ekonomi bukan hanya dari internal tapi juga faktor eksternal. Salah satunya tren harga minyak masih naik dan pembicaraan dagang AS-China belum menemukan titik temu. Lana menilai, faktor domestic tidak terlalu banyak memberikan perubahan pada rupiah. Diprediksi rupiah akan tetap menguat dikisaran Rp 14.451 per dollar AS.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah sudah memprediksi kejadian demo hanya berdampak sementara. “Kalau kerusuhan ini bisa diselesaikan dengan cepat, dampaknya akan bersifat temporer. Ya terbukti kan ini bisa,”ujarnya.

Sejauh ini, kata Piter, investor asing masih menanti kondisi ekonomi global stabil sehingga masih menunda investasinya. Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengungkapkan, kembali bergairahnya ekonomi pasca kerusuhan karena aparat keamanan sudah bertindak cepat dan menangani situasi secara efektif.

Baca Juga : PDIP Siapkan 51 Pengacara

Menurutnya, peran pemerintah dalam menjaga tingkat stabilitas politik berbuah kestabilan fundamental makroekonomi yang masih terjaga saat ini. “Penjagaan pemerintah pada demonstrasi pasca pengumuman KPU memberikan katalis positif pada peningkatan kepercayaan investor,” ujarnya.


Nafan melihat penyebab pelemahan rupiah sebelumnya lebih karena dipengaruhi factor eksternal, yakni soal sentiment perang dagang antara AS dengan China.

Selain itu, terdapat pula isu pemerintah AS yang tengah mempertimbangkan memberi batasan pada perusahaan pengawas video asal China, Hikvision.Hal ini memicu kekhawatiran global.

Baca Juga : Digebuk Kolombia, Messi : Kami Kecewa, Tapi Masih Ada Laga Selanjutnya!

Nafan juga memandang sentimen Brexit masih memberi tekanan kepada mata uang emerging market, termasuk rupiah.  Karena, belum adanya kepastian soal keluarnya Inggris dari Uni Eropa membuat pelaku pasar lebih memilih memegang dolar AS, yang memang merupakan safe haven.

Sebelumnya, Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai, demo di Jakarta yang berakhir ricuh tidak berdampak signifikan pada perekonomian nasional.  Menurut Darmin, dampak demo tersebut hanya ada di sektor investasi lantaran investor ingin menunggu perkembangan situasi. (KPJ) 

RM Video