Gubernur BI: Alhamdulillah, Rupiah Kembali Menguat

Klik untuk perbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali jinak terhadap nilai tukar rupiah kemarin. Mata uang Paman Sam ini mengalami penurunan pada posisi dari level Rp 14.385 ke level Rp 14.345.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menguat berada di posisi Rp 14.360 per dolar AS, atau menguat dari posisi Rp 14.451 per dolar AS dengan kisaran perdagangan Rp 14.432- Rp 14.288 per dolar AS.

Seperti diketahui, paca bentrok demonstrasi penolakan hasil Pilpres pada 21-22 Mei lalu, dolar mengalami kenaikan. Dalam lima hari terakhir, posisi dolar AS tercatat sempat menyentuh level Rp 14.558.

Berita Terkait : Alhamdulillah, Semua Saling Mendinginkan

Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai, pelemahan rupiah itu bersifat sementara saja.

“Pelemahan rupiah karena merespon faktor global maupun domestic. Kendati begitu pelemahan rupiah tidak berlangsung lama. Rupiah akan kembali menguat karena para eksportir banyak melakukan aksi menjual devisa ke pasar valas,” kata Perry.


Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menambahkan, situasi politik yang mulai stabil paska kerusuhan lalu berpengaruh terhadap kepercayaan investor. Namun, faktor global juga mempengaruhi penguatan rupiah ini, salah satunya mundurnya Perdana Menteri (PM) Inggris.

Berita Terkait : Rupiah Kembali Kuat

“Stabilitas politik sangat berpengaruh terhadap penguatan rupiah, karena investor tak lagi was-was. Dolar AS juga alami koreksi paska PM Inggris Teresa May mundur. Kegagalan proses brexit di bawah May justru menguatkan sentimen terhadap Poundsterling. Dolar index turun 0.25 persen sepekan terakhir,” kata Bhima kepada Rakyat Merdeka.

Di sisi lain, statemen Presiden AS Donald Trump yang membuka kembali peluang perundingan perang dagang dengan China juga disambut positif pasar. 

“Jika kondisi stabil ini terus terjaga sampai smester kedua 2019, penguatan rupiah akan lebih signifikan,” sambungnya.

Berita Terkait : Terus Bertambah, 2 Petugas Pemilu di NTT Meninggal

Dari data RTI (informasi saham dan kuras) Senin (27/5), dolar AS menunjukkan pelemahan terhadap sejumlah mata uang, di mana rupiah, baht Thailand dan peso Filipina menekan mata uang Paman Sam paling dalam. Namun dolar AS juga berhasil menguat terhadap sejumlah mata uang seperti yen Jepang, franc Swiss dan dolar Kanada.

Sementara rupiah berhasil menguat terhadap seluruh mata uang negara utama dunia. Yen Jepang, franc Swiss dan ringgit Malaysia berhasil ditekan paling kuat hingga Senin pagi. (NOV)