Protes Menjalar di Australia, Media China Sepi Berita Tolak RUU Ekstradisi

Massa mengular di pusat kota Hong Kong. (Foto AP)
Klik untuk perbesar
Massa mengular di pusat kota Hong Kong. (Foto AP)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tak hanya di Hong Kong, sejumlah kota di Australia di hari dan waktu yang sama, Minggu (9/6) juga menggelar aksi menolak RUU Ekstradisi ke China. Seperti di Sydney, Australia, sejumlah imigran keturunan China dan Hong Kong berkumpul mendesak Pemerintah Australia agar mengecam RUU  tersebut.

Koordinator aksi di Sydney, Jared Fu mendesak pemerintah Australia mengecam RUU itu karena AS, Kanada, dan Uni Eropa telah menyatakan kecamannya. 

"Kekhawatiran kami kemungkinan persekusi politik dan pelanggaran HAM bahkan keamanan pribadi jika ditahan di China. Australia belum mengecam RUU Ekstradisi Hong Kong ini," desak mahasiswa salah satu universitas di Sydney, seperti dilansir Channel News Asia, hari ini.

Baca Juga : Warga Tak Perlu Khawatir, Naik MRT Insya Allah Aman

Sementara itu, media asal China kompak menuding unjuk rasa penolakan RUU Ekstradisi berkolusi dan mendapat dukungan kekuatan Barat.

Global Times menyebut ada pertemuan antara tokoh oposisi Hong Kong dengan Menlu AS Mike Pompeo dan Ketua DPR AS Nancy Pelosi.

China Daily memberitakan dukungan warga Hong Kong kepada RUU ini. Diberitakannya, 700 ribu warga yang menyatakan dukungan lewat petisi online. Sedangkan aksi unjuk rasa menolak RUU itu cuman didukung 240 ribu warga.

Baca Juga : Mendramatisir Corona

"Sebagian kecil penduduk Hong Kong tertipu kelompok oposisi dan sekutu asing sehingga mendukung kampanye anti RUU Ekstradisi," tulis media ini.

Unjuk rasa massif ini juga tidak menjadi berita utama di China. Stasiun televisi di China tidak memberitakan kejadian ini. Kantor berita Xinhua menyuarakan dukungan pengesahan RUU itu. Di jejaring sosial Weibo, medsos China yang mirip Twitter, berita unjuk rasa besar Hong Kong tak muncul sama sekali.

Pemicu dipercepatnya disusunnya RUU ini adalah kasus pembunuhan di Taiwan, di mana seorang wanita Hong Kong diduga dibunuh pacarnya saat tengah berlibur. Saat ini, tersangka tidak dapat dikirim dari Hong Kong untuk diadili di Taiwan. [FAQ]