Permintaan Rusia dan Saudi

Amerika dan Iran Kalem Dong...

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden Iran Hassan Rouhani - (Foto : AFP /IRANIAN PRESIDENCY/ HO/ NICHOLAS KAMM).
Klik untuk perbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden Iran Hassan Rouhani - (Foto : AFP /IRANIAN PRESIDENCY/ HO/ NICHOLAS KAMM).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran makin membahayakan. Kedua negara bahkan dengan lantang menyatakan siap perang.

Kondisi makin buruk pasca penembakan drone milik AS oleh Iran di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyebut langkah Iran sebagai “keputusan yang buruk.”

Dilaporkan The New York Times Kamis (20/6) lalu, disebut bahwa Trump sudah sempat menyetujui serangan terhadap Iran. Namun tak lama kemudian keputusan itu dicabut. Persetujuan itu disampaikan setelah Pasukan Garda Revolusi Iran menembak jatuh pesawat intai tak berawak atau drone Angkatan Laut AS di Selat Hormuz pada Rabu (19/6) lalu.

The New York Times mengutip seorang sumber pejabat senior pemerintah, AS berencana menyerang beberapa target Iran. Seperti radar dan sistem baterai rudal. Namun rencana itu dibatalkan di tahap awal.

Berita Terkait : Kemhan Akan Buka Pendaftaran Komponen Cadangan

Menanggapi kabar ini, Gedung Putih dan Pentagon menolak berkomentar. Tidak jelas apakah ada rencana serangan di kemudian hari. AS nampak sangat geram mendapati dronenya ditembak jatuh oleh Iran.

Namun, Iran menegaskan jalur penerbangan drone itu bukan hanya melanggar hukum, tetapi “terang-terangan melanggar hukum internasional.”

“Pesawat nirawak Amerika itu melakukan penerbangan melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan Chabahar dalam mode siluman penuh karena telah mematikan peralatan identifikasi dan jelas terlibat operasi mata-mata,” tulis Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Ravanchi dalam surat kepada PBB.

Khawatir akan ekskalasi antara AS dan Iran, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan, negaranya ingin menghindari perang dengan Iran dengan segala cara. Saudi juga menjadi sasaran tuduhan Iran. Teheran menganggap Riyadh “sengaja memprovokasi perang.”

Berita Terkait : Berdayakan Perempuan, Kades di Bekasi Bakal Ikut Sidang PBB di Amerika

“Itu konyol. Kami telah memperjelas dan begitu juga Amerika Serikat. Eskalasi datang dari pihak Iran dengan perilaku agresif mereka. Kami tidak ingin perang,” kata al-Jubeir kepada Sky News, Jumat (21/6).

“Kami berusaha menghindari perang dengan segala cara. Kami berkonsultasi dengan teman dan sekutu kami untuk melihat opsi dan langkah apa yang bisa diambil. Iran harus memahami bahwa perilaku agresifnya tidak dapat dipertahankan,” ujarnya.

Sementara, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan Presiden Trump, serangan terhadap Iran akan memiliki konsekuensi yang sangat besar. Putin menyarankan AS tidak memilih opsi perang demi keamanan kawasan. “Ini akan menjadi bencana.

Setidaknya, bagi wilayah Timur Tengah,” kata Putin dalam sebuah wawancara live via telepon seperti dilansir dari AP, Kamis (20/6).

Baca Juga : Sensasi Teknologi Perbankan Meriahkan BNI Java Jazz Festival 2020

Putin mencatat bahwa Iran telah mematuhi ketentuan-ketentuan perjanjian nuklir yang penting meski AS menarik diri dari perjanjian tersebut. Putin menambahkan, dia menganggap sanksi AS terhadap Iran tidak berdasar.

Ditanya apakah Rusia bersedia menegosiasikan “tawar-menawar besar” dengan AS mengenai Suriah dan masalah-masalah lain, Putin menjawab: “Kami tidak berdagang dengan sekutu, kepentingan, dan prinsip kami.” [DAY]