Kursi PM Inggris Diincar Wartawan

Boris Johnson. (Foto: Litleatoms)
Klik untuk perbesar
Boris Johnson. (Foto: Litleatoms)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Boris Johnson, jebolan wartawan yang juga eks Menteri Luar iuNegeri Inggris menjadi kandidat terkuat menggantikan Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May yang mengundurkan diri. Dia bersaing ketat dengan Jeremy Hunt. Keduanya bagai bumi dan langit. Yang satu sosok kontrovesi, sedangkan satunya lagi kalem.

Seperti dikutip dari BBC, Johnson berhasil kantongi 160 suara dari 313 suara pada putaran kelima pemungutan suara internal Partai Konservatif di Dewan Rakyat, Kamis sore (20/6). Sementara Hunt cuma 77 suara. Kedua calon itu berhasil ungguli Michael Gove, Andrea Leadsom, Esther McVey, Dominic Raab, Sajid David, Mark Harper, Rory Stewart, Matt Hancock, dan Sam Gyimah.

Penentuan siapa yang akan menjadi Perdana Menteri di Negeri Ratu Elizabeth II itu akan ditentukan suara 160 ribu anggota partai. Johnson dan Hunt akan berkampanye selama satu bulan di seluruh penjuru Inggris untuk merebut hati anggota partai.

Berita Terkait : Tunda Pertemuan Lagi, PM Inggris Johnson Bisa Bikin Marah Trump

Debat kandidat dijadwalkan pada 9 Juli. Negosiasi keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit diperkirakan akan mendominasi isi debat. Pemenangnya sendiri akan diumumkan pada 22 Juli 2019.

“Saya merasa sangat terhormat telah mendapatkan lebih dari 50 persen suara dalam pemungutan suara terakhir," papar Johnson melalui akun Twitternya, Jumat (21/6). "Saya menantikan momen menjelajah Inggris dan menetapkan rencana saya menggiring negosiasi Brexit, menyatukan negara kita, dan menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi kita semua," tambah pria 55 tahun ini.

Eks wartawan The Times dan The Daily Telegraph yang terkenal dengan rambutnya yang acak-acakan itu pede bisa memenangkan pemilihan. Jika terpilih, Johnson akan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa alias Brexit. "Tentu, saya akan menuju ke sana, untuk itu (Brexit, red)," tegasnya.

Baca Juga : Proyek Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Disetop Sementara

Johnson merupakan salah satu figur yang bersikeras membawa Inggris keluar dari Uni Eropa. Dia memainkan peran penting dalam kampanye referendum 2016. Baginya Inggris harus tetap keluar dari Uni Eropa tepat waktu, yakni 31 Oktober 2019, baik dengan atau tanpa kesepakatan.

Johnson merupakan sosok yang kontroversi. Dia pernah dipecat dari wartawan The Times karena merekayasa kutipan. Ia juga pernah dipecat dari menteri muda bayangan urusan seni pada 2004 setelah ketahuan berbohong terkait perselingkuhannya.

Bahkan, dia juga pernah memicu kemarahan publik karena menulis wanita Muslim yang memakai burqa terlihat seperti kotak surat. Puisinya pada 2016 tentang Presiden Turki Erdogan berhubungan seks dengan seekor kambing juga bikin geger.

Baca Juga : SGU-Deltomed Ciptakan Herbal Pencegah Diabetes serta Penyembuh HIV dan Kanker

Meski kurang populer, Hunt tidak gentar bersaing dengan Johnson. "Saya tidak ragu dengan tanggung jawab yang ada di bahu saya," ujar Hunt setelah memastikan tiket final kandidat Perdana Menteri Inggris.

Gaya politik Hunt kebalikan dari Johnson. Ia lebih bersih dari kontroversi dan dikenal sebagai sosok yang tenang, tidak tergesa-gesa, disiplin berkata, dan penuh perhitungan matang. Jebolan Universitas Oxford yang fasih berbahasa Jepang ini memilih meniti karir politiknya secara pelan.

Untuk diketahui, Perdana Menteri Theresa May beberapa waktu lalu mengumumkan pengunduran diri setelah gagal mendapatkan dukungan yang cukup dari anggota parlemen untuk Kesepakatan Brexit yang dia rundingkan dengan Uni Eropa. [SAR]