RMco.id  Rakyat Merdeka - Para pemimpin negara anggota G20 menghasilkan kesepakatan bersama untuk memastikan keamanan warganya terhadap terorisme dan ekstremisme. Caranya mencegah eksploitasi internet dalam penyebaran tindak kekerasan itu.

"Ini adalah tugas utama negara untuk memberantas dan membasmi terorisme," bunyi pernyataan bersama pemimpin G20 di Osaka, Sabtu (29/6). Mereka akan meningkatkan pengawasan di setiap platform daring atau online. 

"Kami, para pemimpin negara G20, mengecam segala tindak terorisme dalam berbagai bentuk," lanjut pernyataan bersama itu.

Berita Terkait : Gelar Tinc, Telkomsel Bangun Ekosistem Digital

Mereka mencontohkan insiden penembakan di Christchurch dan beberapa tindak terorisme belakangan di beberapa negara menunjukkan bahwa setiap negara harus serius mengimplementasi resolusi PBB mengenai strategi kontra-terorisme yang pernah disepakati dalam pertemuan di Hamburg pada 2017.

"Kita semua merasakan kemudahan era digitalisasi dan kami bertekad memberikan dunia maya yang terbuka, aman dan bebas. Internet tidak boleh menjadi tempat persembunyian para teroris. Jangan sampai menjadi tempat mereka merekrut tenaga baru dan menyebar paham yang tidak benar," lanjut pernyataan itu lagi.

Para pemimpin G20 mendesak para pengguna portal online untuk mematuhi aturan yang berlaku. G20 juga berkomitmen bekerja sama dengan seluruh organisasi internasional, industri terkait dan organisasi masyarakat terkait keamanan di dunia maya. 

Baca Juga : Mendes : BLT Dana Desa Rp 10,8 Triliun Sudah Disalurkan

Para pemimpin negara G20 juga mendesak para pemilik platform online untuk bisa lebih lihai mencegah tayangan langsung, pengunggahan dan pengunduhan tindak terorisme di platform mereka.

"Ini mungkin dapat dicapai dengan teknologi canggih. Sehingga pemilik platform online bisa mengurus konten terorisme dengan mudah dan cepat."

"Kami mendukung komitmen para pemilik platform online untuk memberikan wadah terbuka dan bebas kepada publik. Namun, mereka juga harus memiliki kebijakan jelas dan tegas mengenai prosedur keamanan konten."

Baca Juga : Polri Tangani 92 Kasus Penyelewengan Bansos, Terbanyak Di Sumatera Utara

DalamF Internet Global dalam Mengatasi Terorisme (GIFCT) di masa depan agenda terorisme akan menjadi pembahasan utama. "Kami mendorong kerja sama industri, media, peneliti dan organisasi masyarakat untuk saling bekerja sama membentuk wadah inklusif untuk mencegah penyebaran paham ekstrimis dan konten terorisme. Kerja sama semua pihak dinilai dapat membatasi ruang gerak penyebaran paham ekstrimisme, dan terorisme.

"Kami berkomitmen bekerja sama untuk menyelesaikan masalah, termasuk berbagi informasi dan pengalaman domestik, untuk dipelajari bersama. Narasi positif dalam mengatasi paham negatif terorisme sangat penting untuk mengurangi dampaknya kepada masyarakat. Kami minta dan mengajak seluruh lapisan organisasi untuk saling membantu." [DAY]