Sampah Bukan Musibah, Sampah Bisa Jadi Berkah

Klik untuk perbesar
Adina Adler (kiri) berbicara seputar potensi sampah daur ulang dimoderatori Mario Marnaek Simanjuntak di america, Pacific Place, Jakarta, kemarin. (Foto : Diananda R/RM).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sampah menjadi salah satu masalah yang dihadapi sebagian besar negara di dunia. Tapi, tidak selamanya sampah harus menjadi momok yang harus diberantas.

Wakil Presiden Institute of Scrap Recycling Industries (ISRI) Adina Adler mengatakan sejumlah sampah bisa menjadi komoditas jika ditangani dengan benar. “Sampah tidak selamanya sampah. Jenis sampah yang masuk kategori dapat didaur ulang bisa dimanfaatkan kembali dengan mendaur ulang,” ujar Adler dalam diskusi di pusat kebudayaan Amerika Serikat @america, Pacific Place, Jakarta, kemarin.

“Ada sampah organik dan non organik. Sampah non organik seperti plastik, kertas, kaca, kain, logam dan karet bisa diproses menjadi barang yang berguna,” terangnya dalam diskusi bertajuk “Sampah atau Komoditas Berharga?”

Dengan bantuan Foreign Comercial Service US Embassy Jakarta, Mario Marnaek Simanjuntak, Adler menyampaikan pengalamannya mengurus dan menyebarkan ‘awareness’ mengenai pengolahan sampah kepada orang banyak.

Baca Juga : Lahirkan Human Champions di Era Industri Aviasi 4.0, AP II Gandeng BPSDM Kemenhub

Adler mencontohkan industri tempat dia berkecimpung, ISRI, yang merupakan institusi yang mengurusi pengolahan dan pemisahan sampah daur ulang, mewakili 1.300 perusahaan pengolahan sampah daur ulang yang memiliki pusat pengolahan sebanyak 4.000 di seluruh AS dan dunia.

“Mereka ini membantu mengolah sampah yang bisa didaur ulang menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.

Di bawah ISRI, para perusahaan ini memberikan pengenalan dan pelatihan mengenai upaya daur ulang yang efisien kepada publik.

“Kita selama ini berpikir sampah yang kita buang adalah sampah. Tidak. Sampah ini, jika ditangani dengan benar, bisa memberi dampak positif bagi ekonomi dan keberlangsungan lingkungan,” lanjutnya.

Baca Juga : Zidane Siapkan Senjata Rahasia Stop Messi

“Kita terus mengajak publik memilah sampah sesuai kategori agar mudah diproses kembali di pusat daur ulang,” ujarnya.

Dia mencontohkan kebiasaan memilah dari rumahnya sendiri. Adler mengatakan di rumahnya, dia memisahkan sampah organik dengan non organik.

“Sampah non organik ini saya pisahkan berdasarkan jenis seperti plastik pembungkus, gelas dan kaleng soda dan kertas. Sampah ini nanti dikumpulkan dan dibawa ke tempat pengolahan sampah daur ,” terangnya.

Di tempat pengolahan dan pemisahan sampah daur ulang ini, setiap sampah akan dipisahkan untuk dibawa ke tempat pengolahan khusus yang kemudian akan menjadi barang bernilai ekonomis.

Baca Juga : Yang Muda, Yang Taklukkan Dunia

“Karena menghilangkan kebiasaan penggunaan sampah non organik dari kehidupan kita sangat tidak mungkin. Maka, lebih baik menjadi individu yang bisa mengolah sampah ini menjadi komoditas berguna alih-alih membiarkan sampah ini merusak lingkungan,” ungkapnya.

ISRI siap bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan organisasi non pemerintah untuk berbagi informasi dan ilmu mengenai proses pengolahan sampah menjadi komoditas. [DAY]