Kabar dari Tunisia

Berkabung Sepekan untuk Beji Caid, Presiden Tertua Dunia

Beji Caid Essebsi (Foto AP)
Klik untuk perbesar
Beji Caid Essebsi (Foto AP)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Warga Tunisia berduka. Presiden mereka, Beji Caid Essebsi meninggal dunia, Kamis (25/7). Dia mengembuskan napas terakhirnya di usia 92 tahun. Pemerintah menyatakan tujuh hari masa berkabung setelah kematian Beji Caid, pemimpin negara pertama terpilih secara demokratis. Dia juga presiden tertua di dunia.

Dalam upacara yang tergesa-gesa beberapa jam setelah kematian Beji Caid, kepala parlemen, Mohamed Ennaceur, dilantik sebagai presiden sementara. Ennaceur (85) akan memimpin negara itu sampai pemilihan presiden diadakan pada pertengahan September. Menurut Komisi Pemilihan Independen, . pemilihan presiden pada awalnya dijadwalkan pada 17 November.

Berita Terkait : AS Depak RI Dari Negara Berkembang, Ini Kata Mendag

Beiji Caid sempat dirawat di rumah sakit karena penyakit parah pada akhir Juni. Sempat sembuh. Ia dikabarkan kembali ke perawatan intensif pada Kamis 25 Juli (bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan negara) kata salah satu putranya Hafedh Caid Essebsi. Pemakaman Beji Caid akan digelar Sabtu (27/7). 

Beji Caid dipandang sebagai sosok pemersatu tetapi pada akhirnya tidak mampu membawa kemakmuran dan ketenangan abadi ke negara yang dilanda krisis ekonomi. Ia menjadi perdana menteri pada 2011 setelah penguasa lama Zine El Abidine Ben Ali digulingkan. Sebagai perdana menteri, ia membantu merancang konstitusi demokratis baru yang menjamin hak-hak dasar seperti kebebasan berbicara dan mempersiapkan Tunisia untuk pemilihan umum yang bebas.

Berita Terkait : Kediri dan Jatuhnya Presiden

Dia ikut menjadi perantara pembagian kekuasaan bersejarah antara gerakan Nidaa Tounes dan partai Islam Ennahda yang membantu memantapkan negara itu, karena bagian-bagian lain di kawasan ini seperti Suriah, Yaman atau Libya berjuang dengan pergolakan dan kekerasan.

Tiga tahun kemudian, dia terpilih sebagai presiden secara demokratis pertama kali di negara itu setelah pemberontakan Arab Spring. Sebagai pengakuan dunia, kelompok masyarakat sipil Tunisia memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 2015. 

Baca Juga : Hotel Tempat Karantina Corona di China Roboh, 70 Orang Terjebak

Belum lama Beji Caid mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan yang dijadwalkan untuk November. Dia bilang, orang yang lebih muda harus memimpin negara itu. [DAY]