Buru Teroris, Thailand Nggak Sekeren Densus

Lokasi ledakan bom ping pong di Bangkok, Thailand (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Lokasi ledakan bom ping pong di Bangkok, Thailand (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kepolisian Thailand terus memburu pelaku bom ping pong di Negeri Gajah Putih itu. Mereka masih kebingungan melacak pelakunya. Polisi Thailand tak sekeren Densus 88 yang bisa begitu cepat menemukan dan menangkap pelaku pengeboman.

Kepolisian Thailand merilis video sebelum ledakan mengguncang Mal Siam Square di Bangkok, Jumat (2/8) pagi. Dari rekaman itu, diketahui bom dibawa pria mengenakan seragam sekolah dengan topi fedora dan masker, yang memasuki Mal Siam Square pada Kamis sekitar pukul 15.30. Setelah itu, dia menuju rak mainan anak-anak. Di sana dia mengambil boneka beruang lalu mengutak-atiknya selama beberapa detik dan mengembalikannya lagi ke posisi sebelumnya. Nah, saat itulah, pelaku meletakkan bom di posisi tersembunyi.

Rekaman video berikutnya menampilkan ledakan terjadi di toko yang sama menyebabkan kebakaran dan gumpalan asap. Spekulasi yang beredar, bomber itu adalah pemberontak asal Thailand Selatan yang membalas kematian rekan mereka, Abdulloh Esormusor (34) yang ditangkap lalu dibiarkan koma di kamp militer.

Hasil pemeriksaan terungkap, Esormusor meninggal akibat dicekik. Namun polisi menyatakan terlalu dini mengaitkan insiden rentetan bom ini dengan kelompok pemberontak. Otoritas Thailand juga menduga ada motif politik.

Baca Juga : Dipanggil KPK, Hasto Datang

Terpisah, Kepala Kepolisian Nasional Thailand, Jenderal Polisi Chakthip Chaijinda, mengungkapkan, penyelidikan awal menunjukkan rentetan ledakan bom mungkin dilakukan oleh kelompok pemberontak yang mendalangi serangan bom di tujuh provinsi di Thailand pada Agustus 2016.

"Meskipun itu kelompok yang sama, kali ini mereka menggunakan anggota-anggota baru yang tidak memiliki catatan kriminal untuk melancarkan serangan di Bangkok," ujar Chakthip dalam pernyataannya seperti dilansir dari AFP.

Tujuh bom lainnya dilaporkan ditanam di lima lokasi di Bangkok dan Nonthabur. Hanya enam bom yang meledak hingga melukai empat orang. Beberapa ledakan terjadi di area stasiun Skytrain Chong Nonsi dekat Gedung King Power Mahanakhon, di Kompleks Gedung Pemerintah di Chaeng Watthana Road dan di Markas Angkatan Bersenjata Thailand.

Chakthip menegaskan, otoritas Thailand mampu mengendalikan situasi. Dia telah menunjuk wakilnya, Jenderal Polisi Chaiwat Kateworachai, untuk memimpin penyelidikan kasus teror ini. Baru dua tersangka ditangkap terkait dua bom di luar Markas Besar Kepolisian Thailand.

Baca Juga : Pasien Terduga Virus Korona di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Belum Bisa Dipastikan

Komandan Kepolisian Provinsi Region 9, Letnan Jenderal Polisi Ronnasilp Phusara, menyatakan ada keterkaitan antara dua tersangka itu dengan kelompok pemberontak di Thailand Selatan. Kebetulan, dua tersangka ini ditangkap di Provinsi Chumpon, Thailand Selatan.

Sayangnya, laporan terpisah dari The Nation Thailand menyebut, sejauh ini, tak ada indikasi keterkaitan kedua tersangka dengan rentetan bom dua hari lalu. Sementara Kepala Tentara Thailand Jenderal Apirat Kongsompong menduga, pelaku adalah pendukung mantan Perdana Menteri (PM) Thailand Thaksin Shinawatra. Namun namanya dirahasiakan.

Sumber dari pakar penjinak bom di wilayah Thailand Selatan menyebut bom-bom yang diledakkan di beberapa lokasi jenis bom rakitan yang dikendalikan pengatur waktu. Bom semacam ini dirancang untuk memancing kepanikan, bukan untuk memicu banyak korban jiwa.

PM Thailand, Prayuth Chan-O-cha menyebut, rentetan teror bom ini bertujuan merusak reputasi Thailand. Ditambahkan, tentara-tentara Thailand akan ikut dikerahkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

Baca Juga : Antisipasi Virus Korona, Sriwijaya dan Lion Air Nggak Boleh Terbang ke Wuhan

"Kita harus menunjukkan upaya kolektif kita untuk memerangi mereka yang berniat merusak negara. Jangan biarkan mereka berdiri bersama kita di masyarakat," ujarnya dikutip laman The Straits Times. [FAQ]