Serbu Tumpeng Semarakkan Nasionalisme dari Jenewa

Suasana Upacara 17 Agustus di PTRI Jenewa. (Foto KBRI Jenewa)
Klik untuk perbesar
Suasana Upacara 17 Agustus di PTRI Jenewa. (Foto KBRI Jenewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Lebih dari 300 orang Warga Negara Indonesia (WNI) turut berpartisipasi dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di halaman Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI Jenewa), pada Sabtu, 17 Agustus 2019. Mayoritas masyarakat Indonesia tersebut merupakan WNI yang bekerja pada berbagai organisasi internasional, kalangan profesional, pelajar dan pelancong yang tengah berada di Jenewa. 

“Partisipasi masyarakat Indonesia pada Upacara 17 Agustus kali ini terbilang besar untuk kota kecil di Eropa seperti Jenewa. Hal ini merefleksikan begitu besarnya antusiasme masyarakat Indonesia yang berdomisili, atau tengah berada, di Jenewa dan sekitarnya untuk mengekspresikan semangat nasionalismenya,” keterangan Wakil Tetap RI untuk PBB, Organisasi Perdagangan Dunia dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib.

Baca Juga : Sangat Disayangkan, Pesepeda Yang Tertabrak Avanza Tak Gunakan Jalur Khusus

Lebih lanjut, Dubes Hasan Kleib menyampaikan, saat ini cukup banyak WNI yang bekerja pada berbagai organisasi internasional di Jenewa; seperti di Kantor PBB, WTO, IOM, UNHCR, WHO, WIPO dan lain sebagainya. Trend ini menunjukkan, sumber daya manusia Indonesia dapat bersaing di dunia internasional, sesuai dengan tema Peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia, “SDM Unggul Indonesia Maju”. 

Dubes Hasan Kleib menambahkan, meskipun telah dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya, Upacara 17 Agustus senantiasa memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Indonesia di Jenewa dan sekitarnya. Selain mengenang jasa dan perjuangan para pahlawan, serta terus memupuk rasa nasionalisme, Upacara 17 Agustus juga dimanfaatkan sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi.

Wakil Tetap RI di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, serahkan Bendera Merah Putih kepada Pasukan Pengibar Bendera. (Foto PTRI Jenewa)

Baca Juga : Dijenguk Menpora, Kaki Evan Dimas Masih Bengkak

Usai pelaksanaan upacara pengibaran bendera, kegiatan dilanjutkan dengan acara “Pengepungan Tumpeng” dan ramah tamah. Para peserta berkesempatan untuk bercengkrama sembari menikmati nasi kuning dan ragam kuliner nusantara lainnya. Kesempatan ini dimanfaatkan PTRI Jenewa untuk mengembalikan makna dari tradisi tumpeng. 

“Falsafah tumpeng adalah lambang gunungan yang bersifat awal dan akhir. Ini mencerminkan manifestasi simbol sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan kembali lagi kepada Tuhan. Selama ini, masyarakat Indonesia terbiasa dengan kebiasaan memotong tumpeng dari puncaknya. Padahal, kebiasaan ini seakan memotong hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Jadi tumpeng itu dikeruk, bukan dipotong.” Demikian dijelaskan Dubes Hasan Kleib seraya mengutip kampanye yang digadang Indonesian Gastronomy Association (IGA). 

Baca Juga : Masih Nol Rupiah, KA Bandara Solo Resmi Beroperasi

Rangkaian peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia di Jenewa akan diikuti dengan penyelenggaraan Pesta Rakyat yang akan dilaksanakan pada 25 Agustus 2019, dan ditutup Resepsi Diplomatik bagi perwakilan negara-negara sahabat yang berkedudukan di Jenewa.[MEL]