RMco.id  Rakyat Merdeka - Apa yang ada di benak Anda, begitu mendengar nama Ethiopia? Negeri yang kelaparan dengan musim kering yang berkepanjangan, ataukah anak-anak kurus dengan perut membuncit karena lapar dan kurang gizi?

Jawaban itu memang ada benarnya. Tapi, itu cerita masa lalu. Di mana kelaparan yang melanda Ethiopia, menyita perhatian publik. Hingga kisahnya pun diabadikan oleh Michael Jackson dan Lionel Richie pada tahun 1985, dalam lagu "We Are the World" yang dibawakan oleh supergrup beranggotakan 45 musisi pop, yang menyebut diri mereka USA for Africa (United Support of Artists for Africa).

Musisi dalam negeri, Iwan Fals juga tak mau ketinggalan. Lewat lagu "Ethiopia", Iwan juga menunjukkan simpati terdalamnya untuk negeri yang mengalami instabilitas politik dan musibah kekeringan pada 1984-1985. Tapi kini, segalanya telah berubah.

Tahun-tahun belakangan ini, beberapa daerah dan kota di Ethiopia terus aktif menanam pohon dan menambah ruang hijau, untuk meningkatkan kualitas hidup penduduknya. Ethiopia serius membenahi diri, dan memerangi polusi.

Fakta ini dibenarkan oleh Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika, Al Busyra Basnur yang akrab disapa Al. Lima bulan menjelang penugasannya, Dubes Al mengaku dibikin heboh oleh sahabatnya. Ia diingatkan kondisi Ethiopia. Situasi tempo dulu. 1983-1985.

Berita Terkait : Dua Petinggi Kemlu Ethiopia, Tanam Pohon di KBRI Addis Ababa

"Deg-degan juga. Saya diingatkan untuk begini, begitu. Yang semuanya terkait dengan fakta Ethiopia tempo dulu. Mungkin, itu karena mereka belum tahu info terbarunya tentang Ethiopia, yang kini semakin hijau dan modern. Perkembangannya ternyata pesat. Ibu Kota Ethiopia, Addis Ababa yang terletak di ketinggian 2.200 meter dari permukaan laut, diselimuti oleh banyak pepohonan hijau. Sangat indah," ungkap Dubes Al dalam wawancara eksklusif dengan wartawan RMco.id, Firsty Hestyarini dan Mellani Eka Mahayana di Jakarta, Selasa (27/8).

Menurut Dubes Al, Ethiopia mengalami perkembangan ekonomi pesat dalam satu dekade terakhir, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 10 persen. Tercepat di kawasan Afrika.

Dalam tiga tahun terakhir, ekspor Indonesia ke Ethiopia yang umumnya berupa minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), kertas, aki mobil, ban mobil, bahan pembuat sabun juga terus mengalami peningkatan. Tahun 2017-2018, ekspor Indonesia ke Ethiopia naik 24 persen.

"Saya berterima kasih dengan teman-teman media, yang telah membantu menginformasikan kabar terkini dari Ethiopia dan sekitarnya. Sekarang, banyak yang bertanya dan antusias untuk bekerja sama dengan Ethiopia. Jumlah penduduknya yang 108 juta jiwa adalah pasar potensial," tutur Dubes Al.

Pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, 59 tahun silam itu terlihat sangat bersemangat dan antusias menceritakan kondisi terkini Ethiopia. Menu makanan Jepang yang dipesan, lama disentuhnya. Mata Dubes Al yang siang itu mengenakan kemeja batik digulung tiga perempat, terlihat begitu berbinar menceritakan kemajuan negara di Tanduk Afrika, beserta progres hubungan diplomatik Indonesia-Afrika. Termasuk, Ethiopia.

Berita Terkait : Dosen, Peneliti dan Mahasiswa Ethiopia Ingin Belajar di Indonesia

"Perhatian pemerintahan Presiden Jokowi terhadap hubungan Indonesia-Afrika, sangat luar biasa. Istilahnya, bukan lagi double, tetapi triple. Bukti konkretnya adalah ajang Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID) di Bali pada 21-22 Agustus lalu. Forum itu berhasil mencapai kesepakatan bisnis senilai 822 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 12,3 triliun antara Indonesia dan negara-negara Afrika. Termasuk, dengan Ethiopia dan Djibouti," terang Dubes Al.

"Komitmen Indonesia dan negara-negara Afrika adalah maju dan sejahtera bersama. Penyelenggaraan IAID itu merupakan tindak lanjut dan upaya memelihara momentum Indonesia-Africa Forum (IAF) pada 2018," imbuhnya.

Dubes Al yang tiba di Addis Ababa pada 12 Maret 2019 dan menyerahkan Surat Kepercayaan pada 30 Mei 2019, memang aktif mengeratkan hubungan kedua negara.

Meski kala itu belum menyerahkan Surat Kepercayaan, diplomat yang pernah bertugas di Konsul Jenderal Republik Indonesia di Houston, Amerika Serikat pada 2010-2013 itu tancap gas mempromosikan Indonesia.

Alhasil, dalam 2,5 bulan, Dubes Al sukses menggelar 30 kegiatan dengan warga setempat. Mulai dari kalangan anak muda hingga pebisnis. Pada 23 Juni s.d 2 Juli lalu, Dubes Al juga mendatangkan empat wartawan Ethiopia ke untuk mempromosikan Indonesia di negara yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Abiy Ahmed. Terutama, di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Baca Juga : Menteri Sri Mulyani Usul Pemda Disuntik Insentif

Di Forum IAID 2019, Dubes Al tak hanya mendatangkan para pembuat kebijakan, pejabat senior pemerintah, menteri, dan para pemangku kepentingan lainnya dari Afrika.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendatangkan  CEO Youth 2 Youth, Kalewongel Tesfaye dan CEO Safe Light, Sileshi Umer. Keduanya mewakili dua organisasi pemuda terkemuka di Ethiopia, sekaligus founder Ethiopia-Indonesia Youth Association (EIYA) yang dibentuk di KBRI Addis Ababa, 11 Juni 2019. [MEL/HES]