Ngumpul Bareng Jurnalis Muslim Sedunia Di Rusia (2)

Facebook dan Google Biang Kerok Penyebar Fake News

Jurnalis peserta The 5th International Forum of The Muslim Journalists and Bloggers, Kawa Mahmood (Irak), Tariq Qudies (Yordania), dan Mikhail Kalmikov (Rusia) tampak serius menyimak dialog yang digelar pada 25-28 September 2019 di Kota Saint Petersburg, Rusia. (Foto: Kartika Sari/RM)
Klik untuk perbesar
Jurnalis peserta The 5th International Forum of The Muslim Journalists and Bloggers, Kawa Mahmood (Irak), Tariq Qudies (Yordania), dan Mikhail Kalmikov (Rusia) tampak serius menyimak dialog yang digelar pada 25-28 September 2019 di Kota Saint Petersburg, Rusia. (Foto: Kartika Sari/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka Kartika Sari menghadiri The 5th International Forum of The Muslim Journalists and Bloggers, atas undangan The Group of Strategic Vision “Russia-Islamic World”.

Konferensi ini digelar pada 25-28 September di Kota Saint Petersburg, Rusia. Perjalanan selama sepekan ini, berakhir di ibukota Rusia, Moskow. Berikut ini laporannya.

Makin menjamurnya fake news dan hoax news di era media digital, menjadi salah satu topik paling menarik yang dibahas dalam “The 5th International Forum of The Muslim Journalists and Bloggers”.

Baca Juga : None, Adik Mentan Siap Maju Wali Kota Makassar

Para peserta yang terdiri dari jurnalis, blogger, pejabat pe- merintah, politisi, diplomat, dosen dan analis itu, sepakat bahwa fake news yang belakangan ini mewabah di era media digital, mesti diperangi dan dibasmi.

Para peserta diskusi juga sepakat bahwa Facebook, Google, WhatsApp, Twitter, Instagram dan media digital lainnya, ikut berperan besar dan bertanggung jawab dalam menyebarkan fake news.

Fake news, hate speech dan disinformasi, tak hanya telah memecah masyarakat sebuah negara. Tapi juga sukses menyebarkan kebencian, mempengaruhi opini publik serta memutarbalikkan fakta.

Baca Juga : Sore Ini, Menhub Dijadwalkan Dampingi Presiden Resmikan Runway 3 Soetta

Rakyat Merdeka berkempatan memberikan pidato di hari kedua konferensi yang digelar The Group of Strategic Vision “Russia-Islamic World” tersebut.

Saya berbagi cerita tentang bagaimana upaya media mainstream dan konvensional di Tanah Air memerangi derasnya fake news dan hoax news selama pemilu presiden (pilpres) April lalu.

Pada kesempatan itu, saya menjelaskan bahwa fake news yang banyak beredar di media sosial, telah berhasil memecah belah bangsa, dan bikin masyarakat Indonesia mempercayai berita bohong sebagai hal yang benar.

Baca Juga : Mobil dan Motor Listrik di Jakarta Tak Perlu Bayar Pajak

Ya, fake news memang ibarat perdagangan narkoba (drugs trade). Bisnis yang menggiurkan dan menjanjikan uang besar itu, bisa eksis karena ada factories (produsen), dealers (penjual atau pengedar) dan victims (pemakai alias korban).
 Selanjutnya