Nggak Terima Dikritik Trump, Erdogan Rangkul Putin

Recep Tayyip Erdogan (Foto Reuters)
Klik untuk perbesar
Recep Tayyip Erdogan (Foto Reuters)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tengah menimbang rencananya ke Amerika Serikat (AS). Ini terjadi setelah Washington mengkritik keras serangan Turki terhadap pasukan Kurdi di kawasan utara Suriah.

Kepada jurnalis, Rabu (16/10), Erdogan mengatakan akan menimbang ulang rencananya ke AS, yang dijadwalkan November. “Karena berbagai argumen, debat dan ocehan anggota Kongres AS mengenai diri saya, pejabat dan keluarga saya terdengar tidak ada sopan-sopannya,” ujarnya.

Berita Terkait : Pakar Mesir Anggap Ketegangan Turki-Israel hanya untuk Tarik Simpati

Erdogan menyebut,  AS tidak menghormati keputusan pemerintahannya atas langkah militer di Suriah, yang diklaim Turki untuk membasmi kelompok teroris. nya, Erdogan memutuskan untuk terbang ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin. Rencananya, sebelum akhir Oktober, Erdogan akan berkunjung ke Moskow untuk membahas serangan militer pasukan Turki dan Rusia di kawasan utara Suriah.

Keputusan ini diambil Erdogan setelah menolak perintah gencatan senjata yang dikeluarkan AS. Menteri Luar Negeri AS Mike Pence bahkan sampai terbang ke ibu kota Turki, Ankara, untuk membujuk Erdogan. Pence mengancam, AS akan terus memberikan sanksi sampai kesepakatan gencatan senjata dicapai.

Berita Terkait : Ratusan Wanita Hamil Ditahan Karena Dituduh Lawan Pemerintahan Erdogan

Meski diancam, Erdogan tetap ogah menuruti permintaan AS. “Terus saja minta gencatan senjata. Tidak akan pernah terjadi,” tegas Erdogan dikutip Reuters.

Turki meluncurkan serangan militer ke kawasan utara Suriah, pekan lalu. Memulai Operation Peace Spring pada 9 Oktober, Ankara mengirim tentara  setelah Washington menarik pasukan dari sana. Erdogan beralasan, pasukannya melawan kelompok teroris dan bukan menyerang pasukan Kurdi, yang menjadi pasukan bantuan di saat pasukan AS bertugas di Suriah. Kini, pasukan Turki dan Su- riah tengah berada di Kota Manbij untuk memukul kelompok teroris.[DAY]