Tak Suka Trump, Bloomberg Daftar Pilpres AS

Klik untuk perbesar
Michael Bloomberg (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Taipan asal New York, Michael Bloomberg mendaftar jadi Capres Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat. Bos media Bloomberg ini, mengaku tidak suka dengan kepemimpinan Donald Trump.  

Bloomberg menyerahkan berkas pendaftaran di masa-masa injury time, kemarin. Pria 77 tahun itu bahkan menyebut Trump sebagai sebuah ancaman negara yang harus segera diganti.

"Mike (sebutan Bloomberg) percaya bahwa Donald Trump merupakan ancaman yang belum pernah ada sebelumnya terhadap bangsa kita. Pada 2016, ia berbicara di Konvensi Demokrat, menyerukan untuk waspada terhadap kepresidenan Trump," ujar penasihat utama Bloomberg, Howard Wolfson, seperti dilansir dari CNBC, kemarin.

Baca Juga : Pemprov DKI dan KAI Perkuat Kerjasama

Bloomberg terkenal sebagai seorang pebisnis. Kekayaannya diperkirakan mencapai 57,1 miliar dolar AS atau setara Rp 800,46 triliun. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang filantropis yang kerap bersuara soal isu lingkungan. 

Bloomberg merupakan lulusan Harvard. Dia memulai kariernya di Salomon Brothers di tahun 1966. Dalam politik, dia pernah menjadi Wali Kota New York selama 12 tahun. Langkah Bloomberg diprediksi menjadi kabar buruk bagi kandidat Partai Demokrat lain seperti Joe Biden, yang diunggulkan dalam survei.

Trump sendiri merespon santai masuknya Bloomberg di bursa Capres AS. Kepada awak media, Trump mengatakan, tidak ada orang yang lebih suka jadi lawannya selain Bloomberg. Trump sesumbar, bakal menang lagi jika menghadapi Bloomberg di tahun depan.

Baca Juga : Mantap, KAI Raih Penghargaan Contact Center World 2019

Tak hanya menyebut Bloomberg bukanlah apa-apa, Trump juga mengatakan saingannya itu akan gagal jika bergabung dengan Demokrat. "Dia tidak akan melakukannya dengan baik, tapi saya pikir dia akan benar-benar menyakiti Biden," kelakar Trump. 

Pengamat politik dari Universitas Amerika, Jason Mollica mengatakan, masuknya Bloomberg dalam pertarungan internal Partai Demokrat adalah indikasi Partai Demokrat tidak memiliki kandidat untuk mengalahkan Presiden Trump.

"Sejak awal, pencalonan Biden sendiri bukan perlawanan kuat, dan jika Bloomberg mendapatkan dukungan kelompok tengah Partai Demokrat, ini merupakan tanda bahwa partai tersebut tidak merasa Biden adalah orang yang tepat juga," kata Mollica. [BSH]