Genjot Ekonomi BIMP-EAGA Lewat Kolaborasi Pengusaha dan Pemda

Delegasi Indonesia dalan pertemuan Tingkat Menteri BIMP-EAGA (Brunei Indonesia Malaysia Philippine East ASEAN Growth Area) ke-23 yang di Kuching-Serawak pada 23-26 November 2019. (Foto IST)
Klik untuk perbesar
Delegasi Indonesia dalan pertemuan Tingkat Menteri BIMP-EAGA (Brunei Indonesia Malaysia Philippine East ASEAN Growth Area) ke-23 yang di Kuching-Serawak pada 23-26 November 2019. (Foto IST)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertemuan Tingkat Menteri BIMP-EAGA (Brunei Indonesia Malaysia Philippine East ASEAN Growth Area) ke-23 yang di Kuching-Serawak pada 23-26 November 2019, menekankan pentingnya kolaborasi pengusaha dan pemerintah negara-negara di perbatasan, khususnya dari daerah Kalimantan dan Sulawesi di Indonesia.

Karena peran para stakeholder di daerah perbatasan turut meningkatkan diplomasi ekonomi sekaligus diplomasi kedaulatan yang juga merupakan prioritas politik luar negeri Indonesia. Rekomendasi itu disampaikan BIMP-EAGA Business Council (BEBC) dan dan ADB (Asian Development Bank).

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Serawak, siap mendukung rekomendasi tersebut. Menurut Konsul Jenderal Yonny Tri Prayitno, KJRI Kuching akan berupaya mensinergikan hubungan dan kepentingan para pihak di wilayah Serawak Malaysia dengan Provinsi Kalimantan Barat.

Berita Terkait : Komisi VI Dorong BUMN Kolaborasi Majukan Sektor Pertanian dan Agrobisnis

Dalam keterangan pers yang diterima RMco.id, Yonni lebih lanjut  mengatakan, sejak diresmikannya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Aruk-Sambas yang berbatasan dengan Biawak - Serawak, Malaysia, terlihat arus pelintasan orang dan barang antar negara Indonesia - Malaysia semakin meningkat. Sebelumnya hanya melalui pos pelintasan di Entikong semakin meningkat.

"Terlebih lagi Pemerintah Malaysia sedang giat-giatnya membangun infrastruktur jalan yang dikenal dengan Pan Borneo menghubungkan Pos Biawak di perbatasan Aruk sampai ke Kota Kinabalu dengan melewati negara Brunei Darussalam," jelas  Yonny kepada Delegasi Indonesia yg ikut mengunjungi pos perbatasan dalam rangka pertemuan BIMP-EAGA.

Pertemuan Tingkat Menteri BIMP-EAGA ke-23 juga diperingati sebagai 25 tahun berdirinya kelompok sub regional di kawasan ASEAN timur. Acara itu dihadiri perwakilan menteri dari negara-negara anggota, juga dihadiri Deputy Secretary General ASEAN, Michael Tene dan Director General of South-East Asia Regional Department of Asia Develolment Bank (ADB), Ramesh Subramaniam.

Baca Juga : Yang Dipertuan Agong Tunjuk Muhyiddin Yassin Jadi PM Malaysia Yang Baru

Sedangkan Delegasi Indonesia dipimpin Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kemenko Perekonomian Bobby Hamzar Rafinus. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terus berupaya mendorong pembangunan di daerah terpencil dan perbatasan.

Dalam pertemuan tersebut ADB menyatakan komitmennya untuk mendukung tercapainya BIMP EAGA Vision (BEV) 2025, khususnya yang terkait dengan penyelesaian proyek sektor prioritas dan strategis, yaitu: konektivitas, pembangunan koridor ekonomi, pariwisata dan lingkungan. Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan sistem pengelolaan proyek, mewujudkan pembangunan kapasitas bagi pemerintah pada level nasional dan daerah, serta memperkuat hubungan kerja sama antara BIMP EAGA dan ASEAN.

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi, ADB merekomendasikan agar negara-negara BIMP dapat berkolaborasi dengan membentuk Special Economic Zones (SEZs). Beberapa program dukungan pendanaan dari ADB yang telah direalisasikan untuk pelaksanaan proyek BIMP EAGA di Indonesia antara lain pada pembangunan jalan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara dengan total mencapai 135,27 juta dolar AS.

Baca Juga : Sambut Liga 1 2020, Wapres Ingin Sepak Bola yang Berakhlaqul Karimah

Selain dukungan pendanaan, ADB juga telah memberikan dukungan teknis berupa pelaksanaan feasibility study dalam bidang infrastruktur interkoneksi energi listrik antara Sabah - Kalimantan Utara dan Sabah - Palawan yang diperkirakan akan menghasilkan total energi listrik sebesar 275 kilovolt.

Selain itu ADB juga telah menyelesaikan program assessment terhadap tiga rencana pembangunan pembangkit listrik yang menghubungkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Utara dan Sabah. Di akhir pertemuan, para ketua delegasi menyetujui pernyataan bersama (Joint Statement of 23rd BIMP-EAGA MM) yang sepakat mengapresiasi capaian pelaksanaan BIMP-EAGA Vision (BEV) 2025 dalam kurun waktu dua tahun terakhir, antara lain pembangunan proyek infrastruktur prioritas (PIP) sebanyak 72 proyek yang bernilai 23,27 miliar dolar AD.

Dari jumlah tersebut, keempat negara telah menyelesaikan 24 proyek, lima proyek dalam tahap penyelesaian serta 43 proyek lainnya dalam tahap pelaksanaan. Capaian dimaksud telah melebihi target yang ditetapkan sebelumnya. Dari 24 proyek yang telah diselesaikan, terdapat lima proyek di antaranya di Indonesia, yaitu: perluasan Bandara Internasional Adi Soemarmo fase I, pelabuhan  baru di Makassar dan Bitung, pembangunan Pontianak-Entikong Transport Link, dan Entikong Freight Terminal. Terdapat pula beberapa proyek yang saat ini tengah dirampungkan di Indonesia, yaitu peningkatan jalan raya Manado-Bitung serta jalan tol Balikpapan-Samarinda. [MEL]