Teroris London Bridge Ternyata Baru Keluar Penjara

PM Johnson: Penjahat Berbahaya Jangan Buru-buru Diluluskan

Klik untuk perbesar
Tangkapan layar PM Inggris Boris Johnson, saat diwawancara BBC soal serangan teroris di London Bridge, Jumat (29/11). (Sumber: BBC)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Insiden brutal penikaman yang menewaskan 2 warga dan 3 lainnya luka-luka, terjadi di London Bridge, Jumat (29/11) siang.

Kuat dugaan, pelaku yang ditembak mati polisi di tempat adalah mantan napi teroris yang baru saja bebas. Hal itu terindikasi dari tag yang dikenakannya.

Seperti diberitakan Telegraph, pelaku saat ini tengah menjalani masa percobaan, pasca dibebaskan dari penjara dalam kasus teror.

Berita Terkait : PM Boris Johnson: Negara Tak Pernah Takut, Nilai-nilai Inggris Akan Menang

Soal ini, seorang pekerja pemeliharaan yang turut menjadi saksi mata serangan pisau London Bridge mengklaim, pelaku memberitahunya bahwa ia adalah jebolan penjara kasus pelanggaran terorisme.

Telegraph juga menyebut, pelaku yang kedapatan mengenakan sabuk peledak imitasi, memiliki kaitan dengan kelompok teror Islam.

Sementara The Times melaporkan, sebelum beraksi, pelaku menghadiri sebuah acara di Fishmonger's Hall dekat London Bridge. Di tempat itu, sedianya dia akan berbagi pengalamannya tentang rehabilitasi tahanan.

Baca Juga : Sampai di Indonesia, Evan Dimas Jalani Pemeriksaan MRI

Fakta ini tentunya sangat disesalkan PM Inggris Boris Johnson. Menurutnya, penjahat berbahaya jangan buru-buru diluluskan dari penjara. Harus ada evaluasi menyeluruh terkait hal itu. Hukuman untuk teroris pun, tak boleh ringan.

"Saya sudah lama berargumen. Membiarkan pelaku kriminal serius dan kejam keluar penjara lebih awal, adalah sebuah kesalahan," kata Johnson, sebelum memimpin pertemuan darurat Komisi Kobra, Jumat (29/11) malam.

"Kita harus menegakkan hukuman yang pas untuk penjahat berbahaya seperti teroris," tegasnya.

Baca Juga : Cek Kesiapan Daop 7, Dirut KAI Resmikan Patung Bung Karno di Stasiun Blitar

Aksi teror di London Bridge sebelumnya juga pernah terjadi pada 3 Juni 2017. Tujuh orang dilaporkan tewas, dan 48 luka-luka dalam peristiwa biadab itu. [HES]