Daftar Sukses Uni Emirat Arab Dalam Perayaan Hari Nasional Ke-48

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (kiri), Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Mohammed Abdulla Al Ghfeli (tengah), dan Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil saat menghadiri acara perayaan Hari Nasional ke-48 UEA di Jakarta, Senin (2/12). (Foto Khairizal Anwar/RM)
Klik untuk perbesar
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (kiri), Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Mohammed Abdulla Al Ghfeli (tengah), dan Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil saat menghadiri acara perayaan Hari Nasional ke-48 UEA di Jakarta, Senin (2/12). (Foto Khairizal Anwar/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kedutaan Besar (Kedubes) Uni Emirat Arab (UEA) merayakan Hari Nasional ke-48 pada 2 Desember 2019 di Hotel Four Seasons, Jakarta. Pada 2 Desember 1971, UE dibentuk dari tujuh emirat yang kaya akan minyak bumi yakni: Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah dan Umm Al-Qaiwain.

Di tengah kemeriahan acara, perayaan 2 Desember merupakan waktu untuk merefleksikan pencapaian dan kesuksesan UEA. “Pada 2 Desember setiap tahunnya, kami mereflesikan pencapaian negara kami dan apa yang perlu kami capai di tahun mendatang,” ujar Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Mohammad Abdulla Al Ghfeli dalam perayaan itu. Ia menggambarkan, rakyat UEA sudah terbiasa menciptakan kesuksesan kecil untuk menjadikan UEA sebesar sekarang.

“Kami sudah makin dekat untuk mewujudkan negara kami sebagai negara terbaik di dunia. Kami harap pada 2021, UEA menjadi negara terbaik di dunia,” harap Dubes yang disapa Abdulla. Menurut Abdulla, agenda pembangunan UEA bersifat komprehensif yang bertujuan menjaga kesuksesan di masa kini sekaligus merencanakan masa depan.

Baca Juga : Makin Menggila, WHO Naikkan Status Darurat Wabah Corona ke Level Tertinggi

Pada 2019, lanjut Al Ghfeli, dinobatkan UEA sebagai Tahun Toleransi. Saat ini warga UEA berasal dari 200 kewarganegaraan berbeda yang hidup dalam atmosfer keterbukaan, saling menghormati, dan hidup berdampingan berdasar- kan prinsip toleransi.

Di tahun yang sama, Paus Fransiskus berkunjung ke UEA bersama Syaikhul Al-Azhar Ah- mad Al-Tayeb guna menanda- tangani dokumen “Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama”. Dokumen itu menegaskan tekad pemerintah UEA untuk menanamkan semangat toleransi dalam masyarakat, membangun budaya keterbukaan dan dialog, dan menolak semua jenis diskriminasi berdasarkan agama, jenis kelamin, ras, warna kulit atau bahasa.

UEA menaruh perhatian khusus bagi pemberdayaan kaum perempuan. Untuk diketahui, sepertiga dari Kabinet Pemerintahan UEA adalah perempuan. Selain itu, keterwakilan perempuan di Dewan Nasional Federal saat ini mencapai 50 persen.

Baca Juga : Tak Muluk-muluk, Cita-cita Fadel Cukup Wapres 

Selain itu, Abdulla mengatakan, kekuatan paspor UEA saat ini menempati posisi terkuat di dunia berdasarkan Indeks Paspor Global. Ada 177 negara di dunia yang mengizinkan warga negara UEA masuk tanpa visa.

Mengenai hubungan dengan Indonesia, Abdulla menyebut kedua negara saling dukung dalam berbagai isu global. Salah satunya adalah isu toleransi dan perdamaian dunia. “UEA dan Indonesia sama-sama menjadi rumah bagi ratusan orang dari ras, etnis, bahasa dan agama berbeda. Kita menyebarkan pentingnya toleransi kepada dunia,” ujarnya.

Menteri Dalam Negeri Tito Kar navian, yang turut hadir mengatakan, Indonesia bisa belajar ‘melompat jauh’ seperti UEA. “UEA saja dalam 40 tahun bisa berubah dari nol menjadi seperti sekarang. Indonesia juga bisa melakukan perubahan,” ujar Tito. Selain Mendagri, hadir Men- teri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, tokoh nasional serta sejumlah duta besar negara sahabat. [DAY]