RMco.id  Rakyat Merdeka - Pangkalan udara Patrick Air Force Base di Florida, Amerika Serikat (AS) dihantui ancaman bom, beberapa jam setelah insiden penembakan di pangkalan udara Angkatan Laut (AL) Amerika, Naval Air Station Pensacola, Florida, Jumat (6/12).

Militer AU Amerika pun sigap merespon ancaman ini. Hasilnya, nihil.

Baca Juga : Selain Pegawai dan Pimpinan, KPK Juga Lakukan Tes Swab 50 Tahanan

"Untuk saat ini, kami tidak menemukan adanya ancaman kredibel di wilayah tersebut," kata pihak berwenang, seperti dikutip Reuters, Sabtu (7/12).

Insiden penembakan di Naval Air Station Pensacola yang melibatkan seorang anggota militer Arab Saudi sebagai pelaku itu, mengakibatkan empat orang tewas dan delapan luka-luka.

Baca Juga : Tito: Jangan Pilih Cakada yang Bikin Konvoi dan Iring-iringan di Tengah Pandemi

Terkait hal tersebut, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud telah mengontak Presiden AS Donald Trump, untuk menyampaikan duka cita dan simpati yang mendalam kepada keluarga dan kerabat para korban insiden tersebut.

Seperti disampaikan Trump melalui akun Twitter-nya, Raja Salman menegaskan, aksi biadab itu tidak mencerminkan sikap warga Saudi yang mencintai warga Amerika. Seluruh warga Saudi mengecam aksi tak berperikemanusiaan itu.

Baca Juga : Terima Kasih Pak Jokowi, Papua Sudah Teraliri Listrik

Raja Salman juga telah mengerahkan pasukan keamanannya untuk bekerja sama dengan para agen AS, mengusut tuntas kasus tersebut. [HES]