RMco.id  Rakyat Merdeka - Hubungan bilateral Indonesia dan Senegal semakin mesra. Pada saat kunjungan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi ke Dakar, Senegal, Senin (2/12), Presiden Macky Sall  menyatakan keinginannya untuk meningkatkan dan memperkuat kerja sama dengan Indonesia di berbagai bidang. Macky Sall juga berkeinginan untuk secepatnya berkunjung ke Indonesia. Ia  juga mengharapkan kunjungan Presiden Jokowi ke Senegal di 2020.

Menyusul setelah penandatanganan pembangunan proyek Tour de Goree pada 2 Desember 2019, Senegal secara terbuka telah menawarkan berbagai peluang kerja sama kepada Indonesia. Kemungkinan repeat order pembelian pesawat CN-235 dan pembelian produk PT DI lainnya sudah diindikasikan pihak Senegal.

Kerja sama pengelolaan hasil tambang fosfat juga disodorkan. Renovasi bandara militer, pembangunan military based, jembatan, jalan tol dan pengerjaan berbagai proyek-proyek infrastruktur lainnya menanti kehadiran investor Indonesia. Sekarang bola di tangan Indonesia. Seberapa besar Indonesia mampu menangkap peluang yang ditawarkan, tentunya tergantung pada kesiapan stakeholders kita di Indonesia.

Berita Terkait : Ketahanan Pangan

Dalam keterangan pers kepada RMco.id disebutkan, Duta Besar RI di Dakar Mansyur Pangeran, selama ini telah mendorong kehadiran sejumlah BUMN seperti PT WIKA, PT Dirgantara Indonesia, PT Timah, PT Antam, Indonesian Eximbank dan lainnya untuk hadir dan berpartisipasi dalam berbagai proyek yang ditawarkan Senegal dan tujuh negara lain di bawah akreditasi KBRI Dakar (Mali, Cabo Verde, The Gambia, Cote d'Ivoire, Guinea, Guinea Bissau, Sierra Leone).

Kehadiran beberapa BUMN dalam pendampingan kunjungan kerja Menlu Retno di Dakar tersebut, yang ditindaklanjuti dengan serangkaian pertemuan guna memperdalam peluang-peluang kerja sama, khususnya di bidang industri strategis, pertambangan dan infrastruktur, adalah langkah konkret dan maju dalam memetakan potensi dan peluang yang bisa ditindaklanjuti kedua pihak.

Pada pertemuan lanjutan Selasa (3/12) Menteri Bappenas Senegal, yang juga koordinator seluruh program pembangunan di Senegal DR Cheikh Kante menyampaikan adanya kebutuhan penguatan alat ustama sistem senjata (alutsista) Senegal dalam rangka meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan Afrika Barat.

Berita Terkait : Sun Life Indonesia Perkenalkan Produk Terbaru

Begitu juga dibutuhkan pesawat yang multi purpose yang dapat dioperasikan untuk mengangkut penumpang umum, deployment pasukan dan para medis/sebagai pesawat ambulance, sebagai pesawat khusus VVIP untuk kepresidenan dan berfungsi sebagai survailance.

Dubes Mansyur Pangeran menyambut baik dan menawarkan peluang kerja sama dengan PT DI yang dapat mendesign Pesawat CN-235 sebagai pesawat multi fungsi, PT Pindad dengan produk Tank Anoa dan senjatanya, serta PT PAL dengan produk kapal perang yang sesuai untuk membantu penguatan alutsista Senegal.

Dubes Mansyur menekankan, pesawatCN-235 dapat digunakan untuk beberapa misi, antara lain misi surveillance, patroli maritim, angkutan pasukan bersenjata, kepentingan militer maupun sipil, pesawat pribadi (termasuk pesawat kepresidenan), evakuasi medis, maupun angkutan kargo Pesawat yang memiliki kemampuan take off dan landing di landasan pacu yang pendek serta berkemampuan terbang selama 11 jam ini sangat diminati pesawat ini sangat cocok digunakan untuk keperluan militer dan sipil di negara negara Afrika khususnya bagi Senegal. Oleh karena itu, disampaikan sangat dimungkinkan untuk dilakukan repeat order dengan pendanaan melalui Indonesian Eximbank. 

Baca Juga : Pengamat Sepakbola Nasional: Kehadiran Pemain Naturalisasi Bisa Memotivasi Pemain Lokal

DR Cheikh Kante menawarkan kerjas kepada PT Timah Tbk Indonesia, Sebagai Salah satu negara penghasil fosfat terbesar dunia dengan kualitas terbaik dunia untuk mengelola pertambangan fosfat di Senegal. PT Timah Tbk menyampaikan bahwa Indonesia siap menjadi salah satu buyer dari produksi fosfat Senegal melalui PT Pupuk Indonesia (persero).

"Sekarang bak dua sejoli chemistry telah terjalin antara kedua negara. Tidak perlu melakukan lobi yang memakan biaya tinggi, karena jalan kerja sama yang saling menguntungkan sudah terbuka lebar. Indonesia tinggal menyiapkan peluru investasinya, financial scheme yang matching, expertise / SDM yang memadai, dana yang cukup, serta manajemen yang baik dan transparan," kata Dubes Mansyur.

Ia menambahkan, Senegal Senegal juga telah menyampaikan keinginannya untuk membeli 10 lokomotif dari PT INkA, namun tertunda karena belum adanya dukungan finansial yang cukup kuat. Demikian pula KBRI sudah menawarkan kepada Senegal beberapa kapal militer produksi PT PAL Indonesia. Bila Indonesia siap, maka tidak diragukan lagi bahwa keuntungan akan diterima kedua pihak, sejarah dunia akan mengukir bahwa Indonesia hadir secara riil di bumi Afrika, setelah hadir dihati rakyat Afrika sejak KAA 1955. [MEL]