Rusia-Ukraina Sepakat Barter Tahanan

Volodymyr Zelensky (kiri), Angela Merkel (kedua kiri), Emmanuel Macron (kedua kanan) dan Vladimir Putin dalam konferensi pers bersama usai pertemuan di Normandy, Prancis, Senin (9/12). (Foto: Kremlin Photo)
Klik untuk perbesar
Volodymyr Zelensky (kiri), Angela Merkel (kedua kiri), Emmanuel Macron (kedua kanan) dan Vladimir Putin dalam konferensi pers bersama usai pertemuan di Normandy, Prancis, Senin (9/12). (Foto: Kremlin Photo)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Untuk pertama kalinya Presiden Rusia Vladimir Putin, bertatap muka dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Pertemuan yang dimediasi Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron itu berlangsung di Paris, Prancis, Selasa (10/12).

Keduanya sepakat melakukan barter tahanan, sebagai bentuk itikad baik kedua negara, untuk memperbaiki hubungan yang rusak akibat aneksasi Crimea.

Konflik akibat aneksasi Crimea pada 2014, telah menewaskan lebih dari 13 ribu orang dan membuat hubungan kedua negara memburuk.

Berita Terkait : Pesawat Milik Ukraina Jatuh di Iran

Dalam pertemuan perdana Zelensky dan Putin, keduanya nampak belum terbuka kepada satu sama lain. Mereka bahkan tidak terlihat saling jabat tangan, saat di hadapan jurnalis.

Meski bahasa tubuh keduanya terasa dingin, Merkel dan Macron mengatakan hasil pertemuan keduanya menghasilkan komitmen untuk memperbaiki situasi.

Rusia dan Ukraina sepakat melakukan pertukaran tawanan dan gencatan senjata di kawasan Donbass.

Berita Terkait : Bicara Jiwasraya, Dahlan Sempat Waswas

Zelensky menjelaskan,  dia dan Putin telah mencapai kesepakatan untuk memberi izin pada pipa gas Rusia mengalirkan gas mereka melewati tanah Ukraina.

"Kita sudah melakukan kesepakatan luar biasa. Mulai dari barter tahanan, gencatan senjata dan perubahan politik," ujar Macron dalam pernyataan bersama yang dikutip Reuters, Selasa (10/12).

Masalah besar yang belum berhasil disepakati antara Rusia-Ukraina adalah status Donbass, yang masih diperebutkan kedua negara. Ukraina secara de facto menguasai Donbass, namun Rusia menganggap wilayah tersebut sebagai wilayah kedaulatannya.

Berita Terkait : Lania Fira Dekat dengan Ariel, Sebatas Permainan

Untuk memecahkan masalah ini, kedua belah pihak akan kembali bertemu empat bulan lagi. 

Pertemuan perdana pemimpin Ukraina-Rusia sejak 2016 ini membuat was-was warga Ukraina. Mereka yang menganggap Putin sebagai penjajah, khawatir akan kembali dikuasai Rusia seperti era Soviet dulu.

Massa tampak berkumpul di depan Istana Kepresidenan di Kiev, untuk mengikuti perkembangan terkini dialog Putin-Zelensky di Paris. [DAY]