Terpojok Karena Uighur, Tagar Chinazi Trending Topic

Demo mendukung muslim Uighur. (Foto: Antara)
Klik untuk perbesar
Demo mendukung muslim Uighur. (Foto: Antara)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gerakan protes terkait perlakuan China terhadap etnis minoritas muslim Uighur terus menggelinding di seluruh dunia. Tidak hanya dengan turun ke jalan, aksi protes juga ramai di sosial media. Tanda pagar (tagar) #CHINAZI jadi trending topic, kemarin. China pun semakin terpojok.

Tagar #CHINAZI terpantau tidak hanya ramai di Indonesia. Tapi juga disematkan oleh beberapa pengguna Twitter dari negara lain. Menurut catatan Trends24.in, seharian kemarin, tagar yang bertahan di posisi 5 trending itu, meraup lebih dari 47 ribu cuitan.

Tagar ini juga disematkan untuk mendukung aksi turun ke jalan membela muslim Uighur di berbagai belahan dunia. Sebagaimana juga dilakukan di Indonesia. Ribuan massa yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) dan Persatuan Alumni 212 (PA 212) menggeruduk Kedutaan Besar China, di Jakarta, kemarin.

Aksi protes yang digelar di bawah guyuran hujan lebat dan petir itu, merespons dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) oleh Pemerintah China terhadap etnis muslim Uighur di Xinjiang, China.

Berita Terkait : Terusik Cuitan Soal Uighur, China Undang Mesut Ozil Datang

Selain mengusung spanduk dan poster bernada kecaman, peserta aksi ini juga mengusung bendera Turkistan Timur. Bendera dengan warna dasar biru muda bercorak bulan bintang putih itu, memang kerap digunakan dalam aksi solidaritas untuk Uighur di berbagai belahan dunia. Karena dinilai lekat dengan etnis Uighur di Xinjiang.

Sebelumnya, aksi serupa juga digelar di Hong Kong, Ahad (22/12). Unjuk rasa mendukung warga Uighur itu berakhir bentrok dengan Polisi. Karena peserta aksi berupaya membakar bendera China. Dalam aksi ini, peserta aksi juga menggunakan berbagai atribut bercorak bendera Turkistan Timur.

Sementara pada Jumat (20/12) pekan lalu, giliran Turki yang melancarkan aksi turun ke jalan. Mereka menyerukan China menghentikan penindasan di Xinjiang. Mereka juga membawa bendera Turkistan Timur.

Kini China semakin terpojok, setelah pada Juli 2019, lebih dari 20 negara untuk pertama kali melakukan pemungutan suara untuk menerbitkan sebuah resolusi. Pemungutan suara itu dilakukan sebelum Dewan HAM PBB menyerukan agar dihentikan penahanan massal etnis Uighur di Xinjiang.

Baca Juga : Menko Luhut Ajak Perusahaan Teknologi Bangun Bisnis Di Indonesia

Laporan PBB menyebutkan, ada sekitar satu juta etnis minoritas Uighur ditahan di Xinjiang. Bahkan, Randall Schriver, pejabat tinggi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat untuk wilayah Asia, memperkirakan jumlah etnis Uighur yang ditahan hampir 3 kali lipat yang disebutkan PBB. 

Lebih jauh, seruan untuk memboikot produk China juga mengemuka di Kuala Lumpur Summit di Malaysia, belum lama ini. Sebagai bentuk protes umat Islam terhadap tindakan China terhadap Uighur. "Kita harus melangkah pada cara yang lebih luas, yakni memboikot produk-produk China. Mereka (Beijing) tahu kekuatan pembelian kita,” kata ulama terkemuka Malaysia, Mohd Asri.

Belakangan, PBB meminta China mengumumkan keberadaan intelektual muslim Uighur, Tiyip. Sebab, Amnesty International belum lama ini melaporkan bahwa pada September lalu, Tiyip secara diam-diam telah disidangkan secara tidak adil dan dikhawatirkan akan segera dieksekusi.

Terkait hal itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang meminta PBB tidak ikut campur. Dia memastikan, hak-hak Tiyip masih dilindungi sesuai hukum yang berlaku di negaranya.

Baca Juga : MU Keok, Fans Minta Solskjaer Dipecat

Tak hanya Tiyip, ada beberapa intelektual muslim Uighur lain yang hingga kini belum diketahui nasib keberadaannya. Salah satunya Ilham Tohti. Mantan profesor ekonomi ini diyakini telah ditahan oleh pemerintah China. [SAR]