RMco.id  Rakyat Merdeka - Sedikitnya 76 orang dilaporkan tewas akibat bom mobil di sebuah pos pemeriksaan keamanan, yang terletak di perempatan sibuk di ibu kota Somalia, Mogadishu, Sabtu (28/12) pagi.

"Sejauh ini, kami sudah menerima 73 jenazah. Jumlah ini masih mungkin bertambah," ungkap Direktur Madina Hospital, Dr Mohamed Yusuf kepada AP, Sabtu (28/12).

Berita Terkait : Bantu Siswa di Masa Pandemi, Pahamify Tawarkan Kelas Online Gratis

Sampai saat ini, belum ada pihak yang mengklaim sebagai pelaku bom mobil tersebut. Namun, serangan di Mogadishu kerap dikaitkan dengan kelompok ekstrimis Al Shabab - bagian dari jaringan Al Qaeda -, sejak 10 tahun lalu.

Meski telah dibubarkan pada tahun 2011, Al Shabab masih punya pengaruh di Somalia.

Baca Juga : Pramono Ubaid Tanthowi, Komisioner KPU Ketiga Yang Positif Covid-19

Sakariye Abdulkadir, saksi mata yang melihat dari dekat kejadian itu mengungkapkan, kejadian itu tak ubahnya seperti pembantaian. "Yang saya lihat, potongan-potongan tubuh tersebar. Sebagian bahkan sudah gosong, tak bisa dikenali," tuturnya.

Sementara itu, seorang Anggota Parlemen Somalia Mohamed Abdirizak mengatakan, jumlah korban jiwa dalam insiden ini mencapai 90 orang. Namun, hal itu belum dapat terkonfirmasi.

Baca Juga : DPP PDIP Fokus Menangkan Pilkada Blitar

"Semoga Allah merahmati para korban serangan biadab ini," kata mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan Somalia itu.

Sekadar catatan, awal bulan ini, lima orang tewas dalam serangan Al Shabab di sebuah hotel di Mogadishu, yang populer di kalangan politikus, diplomat, dan pejabat militer. [HES]