Mahathir Mau Tampung Pengungsi Etnis Uighur

Mahathir Mohamad (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Mahathir Mohamad (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mahathir Mohamad menolak ikut campur urusan internal China terkait etnis Uighur. Namun, Perdana Menteri Malaysia itu menegaskan siap menampung pengungsi Uighur.

Hal tersebut disampaikan Mahathir saat menjawab pertanyaan Anggota Parlemen Chan Foong Hin. Anggota oposisi di Parlemen Malaysia ini bertanya, apakah Malaysia akan mengusir pengungsi Uighur jika datang ke negeri jiran ini. "Jika ada pengungsi Uighur melarikan diri ke Malaysia untuk perlindungan, mencari suaka, maka Malaysia tidak akan mengekstradisi pengungsi Uighur meskipun ada permintaan dari Republik Rakyat China sekalipun," ujar Mahathir seperti dikutip dari Malaysiakini, kemarin.

Menurut Mahathir, pengungsi etnis Ugihur diizinkan pergi ke negara ketiga karena takut akan keselamatan dan menghindar dari penyiksaan serta penganiayaan. "Mereka tidak akan mendapatkan perlindungan yang adil di negara asal mereka," imbuh Mahathir.

Baca Juga : Dipanggil KPK, Hasto Datang

Kendati begitu, Mahathir mengingatkan, Malaysia memiliki prinsip untuk tidak terlibat dalam urusan internal negara-negara lain. Termasuk dengan China. Sebab, kebijakan luar negeri Malaysia mengambil pendekatan tidak ikut intervensi dalam krisis kemanusiaan ini.

Akan tetapi, Mahathir menegaskan, fakta terjadinya penindasan terhadap etnis Muslim Uighur di Xinjiang, harus diakui oleh semua pihak. "Kami menerima informasi tentang penangkapan warga Uighur. Peristiwa ini amat disayangkan dan kami menyatakan bahwa kami tidak setuju terhadap praktik semacam itu," tegas Mahathir.

Sebelumnya, pada September lalu, Mahathir mengatakan negara-negara Muslim diam tentang penganiayaan terhadap Uighur karena China adalah negara yang sangat kuat. Di Malaysia sendiri, aksi dukungan kepada etnis Uighur sudah mulai marak. Seperti pada 24 Desember, gerakan Angkatan Gerak Minda Malaysia (Agra) berkumpul di luar Kedutaan Besar China di Kuala Lumpur menyerahkan memorandum pernyataan sikap yang mengutuk perlakuan Beijing terhadap para Uighur.

Baca Juga : Pasien Terduga Virus Korona di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Belum Bisa Dipastikan

Menanggapi memorandum tersebut, juru bicara Kedutaan Besar China di Malaysia, Tang Tang, mengatakan, Beijing terbuka terhadap kritik yang membangun. Akan tetapi, Beijing tidak akan pernah menerima tuduhan yang tidak bertanggung jawab dan palsu.

Penangkapan etnis Uighur telah berlangsung cukup lama. Namun, isu ini memuncak sejak 2017. PBB dan kelompok HAM dunia memperkirakan sekitar 1 juta sampai 2 juta orang ditahan dalam kamp-kamp di Xinjiang. Kamp itu diduga sebagai tempat penganiayaan kepada sebagian besar etnis Uighur. Direktur Regional Amnesty International, Nicholas Bequelin mengungkapkan temuannya di situs Amnesty International tentang kondisi di etnis Uighur.

Dikutip dari situs Amnesty.org, lembaga ini telah mewawancarai 400 lebih orang kerabat dari etnis Uighur yang mengungsi ke luar negeri. Mereka menyebut ada penyiksaan di provinsi ini. Amnesty International juga meneliti bukti foto satelit dan dokumen pemerintah China tentang program penahanan. Diperkirakan satu juta orang yang mayoritas beragama Islam, seperti Uighur dan Kazakh, ditahan di kamp-kamp di Xinjiang, sebelah barat laut China.

Baca Juga : Antisipasi Virus Korona, Sriwijaya dan Lion Air Nggak Boleh Terbang ke Wuhan

Amnesty menyebut, penghuni kamp layaknya tahanan. Kepalanya ditutup, lengan dan kakinya dibelenggu, dan dipaksa berdiri dalam posisi tetap selama 12 jam saat kali pertama masuk kamp. Hukuman bermacam-macam diterapkan. Dari mulai pelecehan verbal, pengurangan jatah makanan, kurungan isolasi dan pemukulan. Ada juga laporan tentang kematian di dalam fasilitas, termasuk laporan bunuh diri.

Pemerintah China berulang kali menentang tudingan ini. Beijing mengklaim, mengatakan tempat itu bukan kamp penyiksaan, melainkan tempat kursus dan merupakan bagian dari kampanye anti terorisme. [FAQ]