RMco.id  Rakyat Merdeka - Iran marah betul ke Amerika Serikat yang telah membunuh jenderal top mereka, Qasem Soleimani. Petinggi negeri Para Mullah ini pun menggertak AS. Mereka menyerukan masyarakat Iran untuk jihad dan melakukan perang suci melawan AS.

Soleimani tewas ditembak pasukan AS menggunakan drone, di Baghdad, kemarin. Pesawat tanpa awak itu menyerang ke mobil yang ditumpangi Soleimani ketika berada di dekat Bandara Internasional Baghdad, Irak. Seketika, Kepala Pasukan Quds Iran itu bersama enam orang lainnya, tewas. Pihak meliter AS menyebut, serangan ini dilakukan atas komando Presiden Donald Trump.

Pihak Iran merespons cepat penyerangan ini. Beberapa jam kemudian, sejumlah jet tempur Iran bermanuver di wilayah udara bagian barat negara itu. Manuver ini seakan menandakan bahwa mereka sudah siap perang melawan AS.

Berita Terkait : Laporan Intelijen AS: Rusia, China dan Iran Mau Ganggu Pilpres AS

Manuver jet tempur F-14 itu disiarkan langsung stasiun televisi setempat. "Jet-jet tempur F-14 Iran bermanuver di langit barat siaga dan patroli. TV Negara," tulis koresponden NBC News, Ali Arouzi, di Twitter, seperti dikutip Express.co.uk. 

Para pemimpin Teheran juga menyatakan balas dendam ke AS atas pembunuhan Soleimani. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bahkan menyerukan jihad. "Semua musuh harus tahu bahwa jihad perlawanan akan berlanjut dengan motivasi berlipat ganda, dan kemenangan yang pasti menanti para pejuang dalam perang suci," kata Khamenei dalam sebuah pernyataan yang disiarkan stasiun televisi Iran.

Presiden Iran, Hassan Rouhani, bersama Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri juga melontarkan kecamannya kepada AS. Rouhani berjanji akan lebih tegas melawan ekspansionisme Amerika dan mempertahankan nilai-nilai Islam. Ia juga mengajak negara-negara lain bereaksi.

Berita Terkait : Pemilu Di Amerika Diprediksi Kacau

"Tanpa ragu, Iran dan negara-negara lain yang mencari kemerdakaan di wilayah ini akan membalas dendam," tegasnya, kemarin.

Soleimani merupakan jenderal berpengaruh. Ia ditugaskan memimpin pasukan Quds. Jenderal berjuluk "the shadow commander" ini juga berperan mengurus intel dan pasukan proxy Iran di wilayah Timur Tengah.

Namun, ia dimusuhi Amerika, karena pasukannya dituding membantu Presiden Bashar al-Assad di Suriah dan pasukan Houthi di Yaman. Militer AS juga menuduh Soleimani yang merencanakan penyerangan terhadap diplomat-diplomat AS.

Baca Juga : Mandiri Syariah Raih Penghargaan Market Leadership Award 2020

Protes atas pembunuhan Soleimani tidak hanya datang dari Iran. Dari internal AS juga ada. Mantan Wakil Presiden AS yang juga kandidat Capres dari Partai Demokrat, Joe Biden, mengutuk keras serangan yang dilakukan Trump ke Soleimani. Menurutnya serangan itu semakin mempertajam ketegangan di kawasan yang saat ini kondisinya sudah sangat berbahaya.

“Presiden Trump menyalakan dinamit ke dalam sebuah kota kecil dan dia berutang penjelasan pada masyarakat Amerika Serikat terkait strategi dan rencananya untuk membuat pasukan militer kita, personel kedutaan, masyarakat Amerika Serikat dan kepentingan kita tetap aman," kritiknya. [SAR]