RMco.id  Rakyat Merdeka - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran mengeluarkan imbauan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) terkait situasi antara Iran dengan Amerika Serikat setelah serangan yang membunuh Qassem Soleimani, seorang Jenderal militer Iran, Jumat lalu.

Menurut keterangan KBRI Tehran yang diterima di Jakarta, Sabtu (4/1/2020), WNI dan diaspora Indonesia di Iran diimbau menghindari tempat-tempat kerumunan massa atau daerah rawan yang berpotensi timbul konflik.

Mereka juga diperingatkan tidak mengunjungi tempat yang diduga dapat menjadi target atau sasaran.

Baca Juga : Snack Video Bagi-bagi Hadiah Untuk Pemenang Konten Kreatif

KBRI mengimbau WNI di Iran tetap menjaga kewaspadaan dan komunikasi dengan sesama masyarakat dan diaspora Indonesia di negara tersebut.

Selain itu, WNI dan diaspora juga dapat menghubungi hotline yang aktif selama 24 jam di nomor 09129632269093781325310912054216709120368594, atau Kantor KBRI Tehran di nomor 021-88715558dan Wisma Indonesia 021-22937305.

KBRI Tehran juga mengeluarkan beberapa imbauan untuk keadaan darurat, termasuk membawa barang-barang kebutuhan seperlunya dan mengutamakan keselamatan diri sendiri serta keluarga, sekiranya dilakukan evakuasi.

Baca Juga : Sebelum Dinyatakan Positif Covid, Ketua KPU Kunjungi Depok dan Makassar

“Ikuti saran/petunjuk yang diberikan terutama terkait tempat penampungan sementara (shelter) serta jalur evakuasi yang harus ditempuh yang telah ditetapkan KBRI Tehran dalam Buku Contingency Plan," demikian KBRI Tehran.

Seperti diberitakan sebelumnya, Amerika Serikat membunuh komandan militer kenamaan Iran, Qassem Soleimani dalam serangan semalam di Irak yang direstui Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Seorang pejabat senior administrasi Trump mengatakan Soleimani telah merencanakan serangan segera terhadap personel AS di Timur Tengah.

Baca Juga : 22 Pegawainya Positif Covid, Hari Ini Kantor Dinkes DKI Kelar Disemprot Disinfektan

Soleimani, Jenderal berusia 62 tahun yang mengepalai pasukan Penjaga Revolusi Iran di luar negeri, dianggap sebagai tokoh paling kuat kedua di negara itu setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. [WHY]