Berkunjung ke Kantor Pusat FAO, Mentan Beberkan Sistem Agriculture War Room

Kunjungan Mentan Syarul Yasin Limpo dan rombongan ke Kantor Pusat FAO, di Roma, Selasa (21/1). (Foto: Dok. KBRI Roma)
Klik untuk perbesar
Kunjungan Mentan Syarul Yasin Limpo dan rombongan ke Kantor Pusat FAO, di Roma, Selasa (21/1). (Foto: Dok. KBRI Roma)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertanian (Menhan) Syahrul Yasin Limpo mengunjungi Kantor Pusat Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), di Roma, Selasa (21/01). Syahrul datang dengan didampingi Dubes/Wakil Tetap RI untuk FAO, Esti Andayani, beserta anggota delegasi dari Kementan, Kemenlu, dan KBRI Roma. Kedatangan mereka diterima Deputi Dirjen FAO, Laurent Thomas, beserta tim direktur dan peneliti dari berbagai divisi FAO. 

Dalam pertemuan dengan Deputi Dirjen FAO dan tim, Syahrul menjelaskan fokus utama pemikiran dan kebijakan Indonesia di bidang pertanian. Yaitu menjamin ketahanan pangan untuk 267 juta penduduk Indonesia dan pemenuhan kebutuhan pangan untuk ekspor.  

“Pertanian Indonesia harus mengimplementasikan sistem digital menuju pertanian modern. Untuk itu, saya telah menggagas pembangunan sistem Komando Strategis Teknis Pertanian, disingkat Kostra Tani dan Agriculture War Room yang dipusatkan di tiap kecamatan guna mendeteksi setiap permasalahan serta mengupayakan peningkatan produksi,” kata Syahrul seperti keterangan resmi KBRI Roma, Kamis (23/1).

Berita Terkait : Mentan Ajak Forum Rektor Gelorakan Kedaulatan Pangan

Syahrul mengungkapkan komitmen dan harapannya untuk peningkatan kerja sama RI dan FAO dengan menekankan pentingnya saran dan panduan FAO sebagai organisasi pusat pengetahuan dan perumusan kebijakan teknis pertanian global. “Sebagai negara berpenduduk ke-4 terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau yang diberkahi kekayaan ciri khas produk pertanian tropis, Indonesia akan terus meningkatkan nilai tambah, baik dari segi kualitas ataupun diversifikasi produk yang dapat diangkat untuk keperluan ekspor,” ujarnya.

Syahrul juga secara khusus menggarisbawahi pentingnya bantuan FAO dalam menghilangkan diskriminasi akses pasar untuk produk-produk pertanian Indonesia dan berkembang lainnya. Utamanya kelapa sawit, yang penting bagi penciptaan lapangan pekerjaan dan pengurangan kemiskinan, serta menekankan peningkatan kerja sama Selatan Selatan (KSS) dengan FAO.

Thomas memuji kebijakan pengembangan Agriculture War Room Indonesia yang sangat selaras dengan prioritas Dirjen FAO untuk meningkatkan inovasi dan digitalisasi pertanian di dunia. “Saya melihat kebijakan pembangunan agriculture situation room sebagai ide yang sangat baik dan bahkan mungkin dapat diadopsi sebagai bagian dari kebijakan Dirjen FAO,” ungkap Thomas.

Berita Terkait : Kunjungi Serdang Bedagai, Mentan Panen 1.000 Ekor Pedet

Thomas juga mengapresiasi kontribusi besar Indonesia dalam Kerja Sama Selatan-Selatan/KSS, antara lain di Afrika (Tanzania dan Gamba) dan peran aktif Indonesia dalam penguatan kebijakan pertanian keluarga (family farming) di tatanan nasional dan global. Lebih lanjut, Thomas menyampaikan komitmennya untuk membantu Indonesia dalam menyukseskan program pangan dan pertanian, termasuk dalam isu kelapa sawit. 

Sebagai bentuk konkret kerja sama RI-FAO pasca pertemuan ini, telah disepakati kolaborasi berbagAi pengetahuan melalui pelatihan teknis yang akan diselenggarakan di kantor pusat FAO pada awal Februari 2020, serta diikuti dengan kunjungan FAO ke Indonesia untuk penyempurnaan sistem dan uji coba Agriculture War Room.

Seusai pertemuan, Syahrul blusukan ke unit-unit tekait di Kantor Pusat FAO. Hal ini dilakukan guna melihat secara langsung aplikasi sistem informasi geospasial global FAO. [USU]