Atasi Wabah Coronavirus, Beijing Gunakan Obat-obatan HIV

Ilustrasi obat-obatan suntik (Foto: Net)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi obat-obatan suntik (Foto: Net)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejak menyebar pada akhir Desember 2019, virus Wuhan menunjukkan penyebaran yang sangat luar biasa. Ironisnya, belum ada vaksin yang dapat menangkal penyakit pneumonia berat ini.

Tak ingin angka penyebaran itu kian melonjak, pemerintah China ambil tindakan.

Mereka memutuskan untuk mengobati pasien virus Wuhan, dengan menggunakan obat-obatan yang biasa digunakan untuk penderita HIV.

"Beredar info di media sosial, bahwa obat-obatan anti-AIDS dapat digunakan untuk mengobati penyakit coronavirus," demikian pernyataan Komisi Kesehatan Kota Beijing, seperti dilansir South China Morning Post, Minggu (26/1).

Berita Terkait : Satu Kasus Corona Terkonfirmasi di Yeouido, KBRI Seoul Sementara Tutup Layanan Mulai Hari Ini

Komisi Kesehatan Nasional disebut telah merekomendasikan nama-nama obat yang dimaksud, untuk mengobati coronavirus.

"Beruntung, kami punya stok Lopinavir/Ritonavir di Beijing," imbuh pernyataan tersebut.

Pemerintah China telah menunjuk tiga rumah sakit di Beijing, untuk menangani pasien coronavirus. Yakni Beijing Ditan Hospital, Beijing Youan Hospital, dan No 5 Medical Center of PLA General Hospital.

Ketiga rumah sakit tersebut telah menggunakan terapi obat-obatan HIV untuk menangani pasien virus Wuhan. Dua obat-obatan yang digunakan adalah golongan antiretrovirals, yang mampu memblok virus HIV untuk mengikat sel-sel tubuh yang sehat, dan melumpuhkan kemampuan reproduks virus tersebut.

Berita Terkait : Demi Atasi Corona, Jokowi Hormati Saudi Tangguhkan Umroh

Obat-obatan jenis ini kerap digunakan sebagai kombinasi, untuk mengatasi suatu penyakit.

Hasil riset terbaru terhadap 41 kasus coronavirus Wuhan di China yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet edisi Jumat (24/1), mencatat adanya manfaat klinis yang substansial, dalam penggunaan obat yang digunakan untuk menangani SARS.

Seperti diketahui, wabah SARS atau infeksi saluran pernafasan akut merupakan epidemi coronavirus yang melanda China pada tahun 2002 dan 2003.

Terkait hal ini, para penulis jurnal yang merupakan pakar dari berbagai lembaga penelitian medis di Cina daratan, mengatakan, belum ada metode pengobatan yang terbukti ampuh untuk mengatasi coronavirus.

Berita Terkait : Virus Corona di Italia Makan Korban Jiwa Lagi

 “Tidak ada pengobatan antivirus untuk infeksi coronavirus yang terbukti efektif," demikian bunyi kutipan artikel yang diterbitkan The Lancet.

Artikel itu juga memaparkan, dalam studi terdahulu, kombinasi lopinavir dan ritonavir di antara pasien SARS-CoV kerap dikaitkan dengan manfaat klinis yang substansial. Alias hanya sedikit hasil klinis yang merugikan. [HES]